Suka clubbing, minum-minum cantik nge-cocktail, nge-wine, beer, vodka, atau apalah-apalah? Nge-rokok? Junk food? Wah, itu dulu Gue banget!

Sekarang? Tetep lah sesekali buat hiburan. Hidup sebagai ODHA gak lantas bikin hidup Gue jadi serba dibatasi koq. Toh kalau Gue gak hidup dengan HIV sekalipun, gaya hidup seperti di atas kalau dilakuin terlalu sering bakal bisa jelek efeknya ke tubuh kan?

Bedanya, sejak punya status ODHA, Gue sendiri jadinya lebih sadar kalau mencegah supaya tubuh jangan sampai sakit itu jauh lebih gampang dari pada mengobati.

Nah, bicara tentang gaya hidup sebagai ODHA, Gue punya punya tips sederhana nih, simak ya!

  1. Minum obat secara rutin

Minum ARV secara rutin (tepat waktu, tepat dosis, dan tepat cara minum) harus menjadi kebiasaan Gue, bukan sebuah paksaan. Mencoba melihat obat sebagai kawan, bukan lawan biusa memotivasi Gue untuk disiplin minum obat.

  1. Menghindari pola hidup tidak sehat

Gue sekarang sudah stop ngerokok. Gue ngerasa sendiri koq, jadi perokok bikin Gue lebih gampang sakit terutama di bagian tenggorokan dan sekitarnya. Padahal tau sendiri, ODHA gampang tertular TB dan ngerokok bisa bikin Gue jadi lebih rentan lagi.

Gue dari dulu bukan orang yang alkohol mania, cuma kalau clubbing aja kadang-kadang suka lupa diri. Nah, karena sekarang udah jangan banget clubbing, Gue juga jadi jarang minum-minum. Nge-diskonya diganti olahraga aja, gak kalah fun koq!

  1. Olahraga

Efek samping ARV akan sangat terasa ketika tubuh kita dalam kondisi kurang fit. Gue biasanya teratur olahraga. Gak harus nge-gym juga, yang sesuai hobby aja biar gak cepat bosan. Gue lebih suka sih jogging sama badminton. Selain menjaga stamina kita agar tetap fit, olahraga juga bikin berat badan stabil dan penampilan kita lebih oke kan? Jangan dikira kalau ODHA bakal jadi kurus ya, teman-teman Gue yang sudah terapi ARV lama malah tubuhnya jadi gampang berisi.

  1. Makan-makanan sehat

Menurut Kementerian Kesehatan, ODHA harus mengonsumsi asupan gizi lebih banyak ketimbang orang dewasa pada umumnya. Untuk mejaga asupan gizi yang sehat, Gue selalu membiasakan makan-makanan sehat seperti sayur, buah-buahan, susu, dan makanan kaya akan gizi lainnya, plus pastinya mengurangi junk food. Lagipula, siapa juga yang betah disuruh makan Mc Donalds atau Burger King tiap hari kan? Yang ada malah berat di ongkos, makanan di warteg juga banyak yang sehat koq!

Oh iya, sebisa mungkin hindari makanan-makanan mentah macam sushi atau telor yang kurang matang. Ingat, kita jadi lebih rentan dengan infeksi berbagai bakteri. Makanan mentah atau yang dimasak kurang matang biasanya masih mengandung bakteri yang bisa buat kita diare.

Sulit memang awalnya untuk memulai hidup sehat, tapi ternyata banyak manfaat lain selain manfaat untuk kesehatan. Tapi seperti hal-nya dengan minum ARV, begitu sudah mulai terpola, Loe justru bakal ngerasa kurang kalau 3 hari aja gak olahraga. Atau tiba-tiba jadi semacam merasa “bersalah” gitu kalau Loe makan sesuatu yang gak sehat.

Prinsip Gue, hidup dengan HIV bukan lah hidup dengan batasan, tapi adalah hidup dengan penuh kesadaran.

Setuju kan?

Kebutuhan Gizi untuk ODHA

ODHA membutuhkan asupan gizi yang berbeda dengan orang normal. Selain karena efek samping ARV yang menyebabkan tubuh kita sulit mencerna beberapa zat yang diperlukan tubuh, ternyata juga karena tubuh kita bisa “letih” menghadapi ARV itu sendiri. Nah, makanya asupan gizi yang baik akan membantu tubuh jadi lebih kuat agar terapi ARV Loe semakin efektif.

Gue ada tips dari Dokter Gue nih agar asupan gizi bisa terpenuhi, check it out!

Protein

Protein itu fungsinya buat memperbaiki sel yang rusak, dan membentuk sel-sel baru. Protein yang dibutuhkan oleh tubuh kita berupa protein hewani dan protein nabati. Dari namanya, protein hewani adalah protein yang berasal dari makanan yang berasal dari hewan misalnya daging, susu, dan telur. Sementara protein nabati adalah protein yang berasal dari tumbuhan seperti sayuran, kacang-kacangan, dan buah.

Tempe atau produknya mengandung protein dan Vitamin B12 untuk mencukupi kebutuhan Odha dan mengandung bakterisida yang dapat mengobati dan mencegah diare.

Lemak

Gue kira semakin sedikit Gue makan-makanan yang mengandung lemak akan membuat Gue semakin sehat, Ternyata itu keliru, karena lemak juga dibutuhkan tubuh kita untuk meningkatkan jumlah energi buat kita beraktifitas, dan membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan K.

Kalau Gue sendiri suka mengonsumsi buah alpukat. Buah alpukat mengandung jenis lemak yang berfungsi sebagai antioksidan dan dapat menurunkan LDL (kolesterol jahat). Di samping itu juga mengandung glutathion (anti oksidan) tinggi untuk menghambat replikasi (perkembangbiakan) virus HIV.

Karbohidrat

Ini juga yang penting banget, karena karbohidrat juga berfungsi sebagai sumber energi. Nasi, kentang, singkong, roti, mie, adalah bahan-bahan makanan yang bisa jadi sumber energy untuk tubuh.

Kelapa dan produknya dapat memenuhi kebutuhan lemak sekaligus sebagai sumber energi karena mengandung MCT (medium chain trigliseride) yang mudah diserap dan tidak menyebabkan diare. MCT merupakan energi yang dapat digunakan untuk pembentukan sel.

Vitamin

Dokter Gue sangat menganjurkan Gue untuk mengonsumsi tambahan vitamin dengan mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran serta tambahan suplemen penambah vitamin seperti vitamin C dan vitamin B kompleks.

Selain semua kebutuhan itu, dokter juga menganjurkan Gue mengonsumsi wortel yang tinggi beta karoten untuk membantu pembentukan CD4. Brokoli yang mengandung Zink, Besi, Magnesium, dan Selenium yang juga berfungsi membantu membentuk CD4 dan mencegah anemia.

Berikut ini diet atau pola makan yang dianjurkan untuk orang dengan HIV:

  • Mengkonsumsi protein yang berkualitas dari sumber hewani dan nabati seperti daging, telur, ayam, ikan, kacang-kacangan dan produk olahannya
  • Banyak makanan sayuran dan buah-buahan secara teratur, terutama sayuran dan buah-buahan berwarna yang kaya vitamin A dan zat besi
  • Minum susu setiap hari
  • Menghindari makanan yang diawetkan dan makanan yang beragi (tape, brem)
  • Makanan bersih bebas dari pestisida dan zat-zat kimia (pilih yang organik!)
  • Bila sudah konsumsi obat ARV, waktu makan sebaiknya disesuaikan dengan jadwal minum obat di mana ada obat yang diberikan saat lambung kosong, pada saat lambung harus penuh, atau diberikan bersama-sama dengan makanan
  • Menghindari makanan yang merangsang rasa mual

Ingat, dengan HIV atau tidak, You are what You Eat!

Sumber: http://spiritia.or.id/cst/bacacst.php?artno=1019

Banyak teman-teman Gue yang beranggapan kalau ODHA itu ciri-cirinya pasti bertubuh kurus, dan suka sakit-sakitan. Padahal faktanya Gue sendiri yang ODHA gak merasa begitu koq. Gue malah merasa gemuk (dan Gue maunya sih diet, yang terus tertunda), kulit Gue sehat-sehat aja, dan Gue juga jarang sakit.

Ada lumayan banyak mitos terkait ODHA baik yang muncul di masyarakat umum ataupun di kalangan ODHA-nya sendiri. Gue coba cerita dan luruskan disini, mungkin mitos-mitos keliru seperti ini sering juga muncul di sekitar Loe atau mungkin juga muncul di diri Loe sendiri.

  1. ODHA pasti kurus

Hoax nih. Buktinya Gue gak kurus. Beberapa temen Gue yang ODHA juga gak keliatan kurus, justru punya tubuh atletis, bahkan banyak juga yang cenderung gemuk. Yang Gue tau, ketika kita di diagnosis HIV+ infeksi beberapa penyakit lah yang akan menyebabkan berat badan kita akan turun drastis. Tapi begitu memulai ARV, patuh mengonsumsi ARV, dan pola makan yang benar, berat badan kita akan kembali normal lagi koq.

  1. Umur ODHA pendek

Gue pernah baca sebuah testimoni yang menyatakan bahwa ada orang yang mampu hidup dengan HIV selama 21 tahun lebih. Tentunya karena dia patuh mengonsumsi ARV secara disiplin. Dan masih banyak koq contoh-contoh nyata ODHA yang bisa berumur panjang dengan pengobatan ARV yang tepat.

  1. ARV mahal

Sehat itu juga hak asasi manusia. Negara kita Indonesia ini harus mampu memenuhi hak asasi ODHA juga. Makanya untuk ARV lini-1 masih disubsidi oleh pemerintah. Jadi akses ARV lini-1 sampai saat ini masih gratis koq.

  1. Lupa minum ARV gak akan terjadi apa-apa

Iya bener banget, gak terjadi apa-apa yang kelihatan! Tapi yang gak keliatan adalah ARV di tubuh Loe bisa resisten. Jujur aja Gue juga pernah lupa atau telat minum obat, tapi kata dokter Gue itu gak apa-apa sejauh gak menjadi kebiasaan. Misalnya Gue telat 15 menit dari jam minum obat. Itu masih bisa di tolerir.

Waktu toleransi terlambat minum obat adalah 1 jam. Tapi kalo Loe lupa minum obat misalnya lebih dari 2 jam, tetaplah minum obat, tapi jangan sampai terlalu sering!

Dan kalau Loe lupa minum satu dosis (satu hari), jangan minum ARV dengan dosis yang digandakan besok hari-nya ya! Menurut dokter Gue, kalau dosis di double dalam satu kali minum karena lupa, gak ada manfaatnya, yang ada justru bikin Loe resisten.

  1. Kalau hasil tes Viral Load tidak terdeteksi, artinya Gue sembuh

Bukan sembuh! Viral load merupakan test untuk melihat jumlah virus HIV di dalam tubuh. Nah, kalau viral load tidak terdeteksi itu berarti pengobatan kita berarti bisa dikatakan berhasil saat itu. Tapi kita gak bisa sembuh dari HIV sampai saat ini. Walau pastinya Gue tetap berharap suatu saat nanti pasti HIV bisa disembuhkan.

  1. CD4 rendah berarti terlambat ARV

Gak pernah ada kata terlambat memulai ARV. Gue sendiri memulai ARV ketika CD4 Gue di angka 85 kok. Meskipun mungkin akan menyebabkan efek samping yang lumayan, tapi itu cuma di awal-awal terapi aja.

  1. ARV dapat mencegah penularan HIV

Salah! ARV dapat meminimalisir perkembangan virus, bukan mencegah penularan HIV. Meskipun Viral Load Loe gak terdeteksi, itu hanya menunjukkan minimnya resiko penularan.

  1. Gue HIV+ dan pasangan Gue juga ODHA, aman ML gak pake kondom

Hati-hati. ada yang namanya “infeksi HIV silang”. Artinya adalah, Gue akan menularkan virus HIV ke pasangan Gue, dan sebaliknya pasangan Gue juga menularkan HIV-nya ke Gue. Akibatnya, pasangan Gue gak akan lagi cocok pake ARV dengan jenis yang dia pakai sekarang, dan Gue pun begitu karena virus yang ada dalam tubuh Gue sudah virus yang “mutan” gak akan cocok lagi pake ARV yang sebelumnya.

Itulah beberapa mitos tentang ODHA dan pengobatan yang Gue tau dan perlu dikoreksi.

Kalau ada mitos yang belum Gue sebut disini dan Loe mau tau apa itu benar atau salah, Loe bisa tanya di kolom “Dokter Gue”.

Keep learning and let’s sharing more yah!

Pernah dengar Lactobasilus Protektus? Yup, itu sejenis bakteri baik di dalam tubuh kita.

Tau gak, Lactobasilus Protektus ternyata cuma sebagian kecil bakteri yang ada di tubuh kita. Ada banyak lagi macam bakteri, jamur dan virus di dalam tubuh kita.

Menurut referensi yang Gue baca, status kita sebagai ODHA bisa suatu saat menyebabkan bakteri, jamur, dan virus itu menjadi semakin ganas yang akan menyebabkan masalah kesehatan dalam bentuk infeksi.

Loe pernah denger orang yang oportunis? Yes, artinya orang yang suka memanfaatkan kesempatan. Nah, makanya infeksi yang muncul atau masuk ke dalam tubuh kita karena mengambil kesempatan dari kelemahan dalam pertahanan kekebalan tubuh disebut Infeksi Oportunistik (IO). Atau mudahnya, IO adalah penyakit-penyakit yang timbul karena adanya virus HIV di dalam tubuh.

Apa aja sih IO yang paling umum terjadi?

Ada banyak banget IO yang mungkin terjadi dalam tubuh ODHA misalnya: Kandidiasis adalah infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, atau vagina. Virus sitomegalia (CMV) adalah infeksi virus yang menyebabkan penyakit mata yang dapat menimbulkan kebutaan. Malaria adalah umum di beberapa daerah di Indonesia. Mycobacterium avium complex (MAC) adalah infeksi bakteri yang dapat menyebabkan demam berulang, seluruh badan terasa tidak enak, masalah pencernaan, dan kehilangan berat badan yang berlebihan. Tuberkulosis (TB) adalah infeksi bakteri yang menyerang paru, dan dapat menyebabkan meningitis (radang pada sistem saraf pusat). Hepatitis, Herpes, dan sebagainya.

Dan, kalau ada penyakit-penyakit umum yang harusnya ringan dan tidak berbahaya seperti flu, diare, ataupun infeksi jamur kulit menjadi parah di tubuh kita, juga bisa dikatakan IO loh!

Bagaimana cara mencegahnya?

Terapi ARV yang benar (tepat waktu, sesuai dosis, dan tepat cara minum obat-nya) akan bisa mencegah kita dari IO karena terapi ARV akan meningkatkan jumlah sel CD4 kita agar mencukupi untuk melawan penyakit-penyakit itu. ARV memberikan kesempatan kepada tubuh untuk memproduksi sel CD4 lebih banyak, dan itulah peran dan fungsi CD4 berguna untuk mengaktifkan sistem kekebalan tubuh kita untuk melawan infeksi.

So, sudah semakin tau kan gimana pentingnya untuk mulai terapi ARV?

Gak ada kata terlambat kok untuk memulai ARV. Tapi, kalau Loe ternyata punya satu atau mungkin beberapa jenis IO, dokter biasanya akan mengobati dulu gejala IO-nya sampai sembuh atau menjadi lebih ringan sebelum Loe bisa memulai ARV.

Jika diperlukan, dokter biasanya akan meresepkan pengobatan ‘profilaksis’ untuk pencegahan beberapa IO dengan konsumsi dua pil obat kotrimoksazol setiap hari. Tapi, pencegahan ini hanya dibutuhkan jika sistem kekebalan tubuh kita cukup terganggu.

Sumber bacaan: http://spiritia.or.id/cst/showart.php?cst=io

Apa itu Infeksi HIV berulang, dan kenapa Gue harus Cegah?

Loe pernah ngalamin gak, Loe belum siap buka status HIV ke pasangan Loe, tapi si dia maksa buat ML gak pake kondom? Loe iyain aja, dan begitu dia positif HIV, Loe jadinya malah depresi karena merasa bertanggung jawab.

Atau, Loe dan pasangan sama-sama positif HIV, mungkin karena menurut Loe toh sudah sama-sama HIV+, kenapa harus pake kondom segala? Eh taunya beberapa waktu kemudian Loe didiagnosa terinfeksi infeksi menular seksual atau mungkin Hepatitis C. Yang rugi siapa? Loe juga kan?

Cerita diatas tadi ada hubungannya sama pembahasan kita kali ini, Pencegahan Positif.

Pencegahan Positif, apa sih?

Kalau didefinisikan, pencegahan positif adalah upaya agar Gue dan Loe sebagai ODHA bisa menghargai diri sendiri dan punya kepercayaan diri, dan bisa menghargai hak & kebutuhan kita dan pasangan kita.

Pilar penting dalam Pencegahan Positif

  1. Bagaimana meningkatkan kualitas hidup ODHA
  2. Menjaga diri gak tertular HIV maupun infeksi lain
  3. Menjaga diri gak menularkan HIV ke orang lain

Pencegahan positif ini, sedikit banyak berkaitan dengan keputusan untuk membuka status HIV kita.

So, perlukah membuka status HIV?

Buat Gue ada beberapa alasan kenapa Gue memutuskan untuk membuka status:

  1. Untuk mengurangi rasa sendiri
  2. Meningkatkan rasa penerimaan diri
  3. Mendapatkan kehidupan seks yang aman dan sehat

Ketika Loe buka status, Loe gak akan merasa sendiri karena mendapat dukungan ketika Loe dapat dukungan maka penerimaan diri terkait status HIV Loe akan lebih besar. Kalo Loe open status ke pasangan Loe yang negatif, Loe bisa dapatin kehidupan seks yang aman dan sehat tanpa Loe menularkan HIV ke pasangan dan Loe juga gak tertular infeksi lain.

Tapi yang mesti Loe ingat, ketika Loe memutuskan untuk membuka status, Loe harus pertimbangakan untung dan ruginya.

Untungnya ketika Loe buka status adalah bisa sangat membantu diri Loe sendiri dalam menghadapi HIV, membantu Loe memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, dan membantu orang lain juga untuk mulai menerima HIV karena kita bisa buktikan walaupun HIV positif kita produktif loh, Guys. Masih bisa bekerja/kuliah dan berkarya.

Ruginya, mungkin saja Loe ditinggal oleh pasangan atau Loe ditolak lingkungan/keluarga. Kalau ini yang terjadi, jelas gak enak. Tapi yang penting, ketika terjadi skenario terburuk Loe tau kemana mencari bantuan atau dukungan. Ingat, bakal selalu ada buddies dan atau teman-teman di support group yang bisa membantu Loe melewati masa-masa sulit kalau Loe perlu didampingi.

Pencegahan positif, berarti juga adalah kita konsisten untuk pakai kondom saat ML dengan orang lain, termasuk pasangan tetap.

Kenapa harus pakai kondom?

Untuk mencegah orang lain terinfeksi HIV juga, mencegah diri Loe dari infeksi penyakitnya lainnya dari infeksi virus HIV yang resisten ARV.

Kalau pasangan Loe negatif, Loe positif HIV dan gak pake kondom yang jelas pasangan Loe beresiko statusnya bakal tertular juga. Atau, Loe juga bisa kena infeksi menular seksual dari dia.

Terinfeksi virus HIV yang resisten ARV, bisa terjadi kalau Gue HIV positif, udah ARV pakai Duviral dan Neviral dan pasangan Gue juga positif HIV dan terapi ARV FDC, dan kami ML gak pake kondom. Kita akan saling menginfeksi, yang disebut Infeksi Silang.

Artinya adalah, Gue akan menularkan virus HIV ke pasangan Gue, dan sebaliknya pasangan Gue juga menularkan HIV-nya ke Gue. Akibatnya, pasangan Gue gak akan lagi cocok pake ARV dengan jenis yang dia pakai sekarang, dan Gue pun begitu karena virus yang ada dalam tubuh Gue sudah virus yang “mutan” gak akan cocok lagi pake ARV yang sebelumnya.

Nah, kalau Gue resisten ARV yang Gue konsumsi sekarang, Gue harus ganti jenis obat yang tentunya butuh penyesuaian lagi. Dan yang lebih parah, kalau Gue terlambat sadar, bisa saja Gue jatuh ke AIDS.

So, sudah siap menjadi ODHA yang bertanggung jawab melindungi diri dan pasangan Loe kan?

Sumber: Pedoman dan Modul Pencegahan Positif

Cara Gue daftar BPJS

Sebagai orang yang hidup dengan HIV, Gue (dan Loe juga) tentunya harus sadar bahwa tubuh Gue sangat rentan untuk terserang penyakit. So, buat Gue punya jaminan kesehatan itu penting banget, karena kalau suatu saat Gue perlu layanan medis jadi gak harus pusing mikirin biaya berobat yang sekarang makin mahal.

Ada banyak pilihan jaminan kesehatan atau asuransi yang bisa Loe pilih. Tapi kalau mau yang relatif “murah meriah”, mungkin Loe sudah pernah dengar BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Nah, BPJS ini adalah upaya pemerintah untuk memfasilitasi jaminan kesehatan untuk masyarakat luas, dan semua warga negara Indonesia berhak untuk punya termasuk Gue dan Loe. Buat kita-kita ODHA, BPJS ini diantaranya bisa untuk mendapat pelayanan-pelayanan kesehatan gratis seperti:

  1. Pemeriksaan Laboratorium untuk pra ARV (cek darah, cek fungsi hati, cek fungsi ginjal, dll)
  2. Test CD4
  3. Pengobatan Infeksi Oportunistik (rawat jalan & rawat inap)
  4. Rontgen untuk pemeriksaan Tb

Pengalaman Gue saat daftar BPJS ternyata gampang banget koq, dan gak perlu waktu lama.

Pertama, Gue mengisi Formulir Daftar Isian Peserta (DIP) dulu. DIP bisa diminta langsung di kantor BPJS atau bisa juga di-download sendiri melalui web www.bpjs-kesehatan.go.id. Lalu, siapkan beberapa dokumen yang wajib dibawa saat pendaftaran, yaitu:

  1. Fotokopi KTP seluruh anggota keluarga lengkap; diutamakan yang sudah eKTP, diutamakan itu maksudnya kalau Loe sudah punya eKTP ya, kalo belum, bisa dibawa aja KTP yang biasa yang masih berlaku.
  2. Pasfoto 3×4 berwarna 1 lembar, warna latar belakang bebas. (buat jaga-jaga, bawa 2-3 lembar, barangkali diminta tambahan).
  3. Fotokopi Kartu Keluarga 1 lembar, baiknya dibawa yang aslinya juga, biasanya petugas suka minta diperlihatkan yang asli (cuma diliat doang koq, gak ditinggal).
  4. Buku tabungan salah satu anggota keluarga yang mau jadi peserta, soalnya buat yang sekarang ini wajib punya salah satu rekening bank yang udah kerja sama dengan BPJS (BRI/MANDIRI/BNI).

Harus diperhatiin juga ya guys untuk pemilihan kelas rawatnya, jangan sampe pilih kelas yang buat Loe berat bayar iurannya tiap bulan. Ada 3 pilihan kelas rawat:

  • Kelas Satu : Rp. 59.500/bulan
  • Kelas Dua : Rp.42.500/bulan
  • Kelas Tiga : Rp.25.500/bulan

Untuk mendaftar jadi peserta BPJS-Kesehatan ada dua cara:

  • Daftar secara OFFLINE

Loe bisa langsung daftar melalui kantor cabang BPJS-Kesehatan terdekat, dan jangan lupa bawa persyaratan yang Gue sebut tadi di atas. Biasanya cara ini agak sedikit lama, Loe harus ambil antrian dan tunggu dipanggil dulu. So, harus datang pagi kalau mau dapat antrian awal.

Kalau dapat giliran dipanggil untuk ketemu petugas untuk input data, tungguin sampai selesai dan Loe akan diberi virtual account buat nanti bayar iuran setiap bulannya. Selanjutnya Loe tinggal bayar ke Bank yang sudah kerja sama dengan BPJS tadi, atau bisa juga bayar lewat ATM.

Terus, bukti bayar/transfer tadi dibawa lagi ke kantor BPJS untuk ditukar sama kartu BPJS. Selesai!!

Loe tinggal nunggu 14 hari setelah pembayaran, dan kartu BPJS Loe sudah bisa dipakai.

  • Daftar secara ONLINE

Buat Loe yang gak mau repot ngantri di kantor BPJS, kita juga bisa daftar secara online melalui website yang Gue sebut tadi (cek lagi deh ke atas). Loe tinggal buka website BPJS, siapkan Kartu Keluarga, Buku rekening Bank, dan Pasfoto (format JPEG), dan akun e-mail. Segala sesuatunya nanti bakal dikirim lewat e-mail yang Loe cantumin tadi saat registrasi online.

Tampilan halaman web-nya akan seperti ini:

bpjs

Loe bisa klik Pendaftaran Online seperti di gambar yang Gue lingkari merah, terus ikuti step-step-nya.

Nah kalau udah selesai, virtual account Loe bakal dikirim lewat e-mail, yang nanti bisa dipakai buat pembayaran iuran (sama dengan cara offline ya guys).

Warning..!! klo Loe udah berhasil daftar online dan dapat virtual account, Loe Cuma punya waktu 24 jam untuk bayar iurannya melalui kantor Pos, Bank atau ATM terdekat.

Setelah Loe bayar, admin web akan otomatis kirim Kartu BPJS Loe lewat e-mail, yang bisa Loe print sendiri kartunya. Done!

Gampang kan? So, buruan segera daftar ya guys! Jangan nunggu sampai sakit dulu, gak ada ruginya koq. Kita memang gak pengen sakit, tapi kalau suatu saat perlu kan Loe gak ribet lagi ngurus sana sini.

Gue BISA, Loe juga BISA!

Apa sih yang Loe ketahui tentang PrEP? Apa ini kali pertama Loe mendengar kata ‘PrEP’?

Buat Gue, mendalami tentang PrEP memerlukan waktu yang cukup lama. Gue pun masih terus belajar sampai saat ini.

Secara sederhana, PrEP bisa diartikan sebagai sebuah obat penangkal untuk mencegah penularan virus HIV bagi mereka yang negatif.

Apa itu PrEP?

PrEP merupakan singkatan dari Pre-Exposure Prophylaxis atau Profilaksis Pra (sebelum) Pajanan. Artinya digunakan untuk mencegah terjadinya sebuah infeksi HIV. Tujuan besar dari PrEP itu sendiri adalah untuk mencegah seseorang terinfeksi HIV. Ini dapat dilakukan dengan rutin mengkonsumsi satu pil PrEP setiap harinya.

Kandungan pil PrEP ini sendiri berisi obat ARV jenis TDF + FTC yang disebut Truvada.

PrEP itu vaksin ya?

Bukan. PrEP bukanlah pengobatan yang bekerja seperti vaksin. Vaksin bekerja dengan mengadaptasi sel imun tubuh agar dapat melawan terjadinya infeksi. Sedangkan PrEP secara sederhana melindungi sel imun tubuh dengan ‘jaket’ agar virus HIV tidak dapat menempel dan mereduplikasi diri di dalam sel tubuh manusia. ‘jaket’ ini harus selalu konsisten ada melindungi sel imun. Dan untuk menjaganya tetap konsisten, PrEP harus diminum setiap harinya. Hal ini berbeda dengan vaksin yang biasanya hanya disuntikan satu atau dua kali.

Seberapa efektif PrEP untuk mencegah HIV?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat sebuah studi klinis tentang efektifitas PrEP. Studi ini bernama iPrEx study (tahun 2010) dengan responden study keLoempok LSL (laki-laki yang berhubungan seks dengan lelaki) termasuk gay, laki-laki biseksual dan LSL lainnya. Riset ini menunjukan hasil bahwa pada mereka yang mengkonsumsi PrEP setiap hari, angka resiko penularan HIV berkurang 99%. Pada mereka yang mengkonsumsi PrEP 4 pil seminggu, resiko penularan berkurang 96%. 99% adalah angka efektifitas yang menyamai fungsi dari kondom untuk mencegah penularan HIV.

So, does PrEP work? Yes, it does!.

Aman gak sih PrEP itu?

Dalam banyak riset klinis, PrEP memiliki beberapa efek samping seperti rasa tidak enak pada perut. Tetapi biasanya ini hanya terjadi pada minggu awal pemakaian. Dalam observasi riset tersebut, tidak ada efek samping serius yang dihasilkan dari penggunaan PrEP.

Berapa lama Gue harus minum PrEP?

PrEP disarankan untuk dikonsumsi setiap hari. Karena komitmen ini, Loe harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk dapat memahaminya, termasuk juga bagaimana Loe akan menggunakannya.

Setidaknya ada beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan tentang berapa lama Loe harus minum PrEP:

  • Jika risiko Loe untuk terinfeksi HIV menjadi rendah karena perubahan perilaku yang berbeda saat ini, mungkin Loe bisa memikirkan untuk stop PrEP.
  • Jika Loe mungkin adalah seseorang yang tidak terbiasa untuk minum obat setiap harinya, cara lain pencegahan selain PrEP mungkin cocok untuk Loe. Semakin rutin PrEP diminum setiap hari, maka tingkat keberhasilannya semakin tinggi. Begitupun sebaliknya, tingkat keberhasilan PrEP menjadi berkurang jika kita tidak konsisten.
  • Dampak negatif ketika kita tidak konsisten dalam PrEP, dan tidak mengetahui bahwa kita telah terinfeksi HIV karena keefektifitasan PrEP yang berkurang, maka kemungkinan resistensi virus akan terjadi. Artinya virus yang telah ada dalam tubuh mungkin tidak akan bisa tertangani dengan ARV tertentu.

Gue dan PrEP

Sebagai seorang ODHA, mungkin Loe akan berpikir kalau menggunakan PrEP adalah sesuatu yang useless. Tetapi, menurut pandangan Gue sebagai ODHA, PrEP ini sangat bermanfaat buat Gue yang memiliki pasangan yang negativ HIV, tentunya karena Gue gak mau pasangan yang Gue cintai tertular HIV juga. PrEP ini memberikan pilihan cara buat Gue seorang ODHA untuk melindungi pasangan Gue yang bukan ODHA,

Tapi yang harus diingat, PrEP hanya melindungi kita dari virus HIV saja tetapi tidak melindungi kita dari infeksi menular lainnya, so, kalau pasangan Loe sudah menjalani PrEP tetapi masih melakukan hubungan seksual lebih dari satu pasangan (atau misalnya Loe dan pasangan Loe suka threesome atau orgy) sangat dianjurkan pula tetap menggunakan kondom.

Kalau boleh berandai-andai, Gue pasti akan mengkonsumsi PrEP untuk melindungi diri Gue andai Gue belum terinfeksi virus HIV. But past is past, yang penting buat Gue sekarang adalah gimana caranya Gue bisa hidup sehat dengan HIV dan pasangan Gue tetap aman dari infeksi HIV.

Bisa koq, pasti Gue Bisa!

Sumber bacaan:
http://www.meandprep.com/blog/prep-101
https://www.aids.gov/hiv-aids-basics/prevention/reduce-your-risk/pre-exposure-prophylaxis/

Banyak kekhawatiran yang muncul kalau tiba waktunya harus berpuasa tapi tetap harus pula mengonsumsi ARV secara rutin. Terlebih tentang jadwal minumnya, karena ARV adalah obat yang wajib rutin untuk dikonsumsi setiap hari dan tepat waktu.

Hal pertama yang Loe harus lakuin adalah, Loe harus konsultasi dulu ke dokter tentang kondisi Loe, cukup memungkinkan tidak untuk berpuasa. Kalau tidak, atau Loe juga was-was, Loe harus merelakan untuk tidak berpuasa dan membayar fidyah (memberikan makan kepada fakir miskin). Tetapi, kalau keadaan Loe memungkinkan dan Loe juga pengen puasa, berarti Loe harus siap untuk memanage jam minum obat ARV Loe baik pra maupun pasca bulan Puasa.

Sekedar informasi untuk Loe yang wajib rutin minum obat ARV tapi juga pengen puasa, untuk yang memakai lini pertama dengan AZT, 3TC, Duviral, d4T, dan nevirapine, jika minumnya saat sahur dan buka, kemungkinan besar aman, dan tidak akan menimbulkan risiko resistansi. Efavirenz (bila dipakai) dapat diminum pas sebelum tidur seperti biasa.

Sedangkan untuk Loe yang memakai lini kedua dengan ddI, tenofovir dan Kaletra, masalahnya sedikit lebih rumit. Seperti yang Loe dan Gue tahu kalau ddI dipakai sekali sehari dengan perut kosong (sedikitnya 30 menit sebelum atau dua jam setelah makan), tenofovir dipakai sekali sehari dengan atau tanpa makan, dan Kaletra (versi kapsul) dua kali sehari dengan makan. Jadi, Kaletra dapat diminum saat sahur dan buka. Tenofovir dapat diminum kapan saja (sahur atau buka). ddI lebih sulit, karena kita harus menunggu dua jam setelah buka puasa untuk minumnya, atau pas saat bangun pagi asal sedikitnya 30 menit sebelum sahur.

Kalau Loe pengen ngga terlalu kaget dengan perubahan jadwal minum obat, mungkin Loe bisa secara bertahap merubah jadwal minum obat pada saat sebelum berpuasa dan setelah berpuasa. Tapi yang paling penting, Loe tetep harus jaga kesehatan Loe selama berpuasa, tetap minum ARV, dan konsumsi nutrisi yang cukup.

Referensi:

Why not kalau kita ODHA dan ingin bekerja. Apa ada yang salah? Apa kita jadi tidak produktif? Malas kerja? Atau merugikan tempat kerja? Big No!

Gue HIV+ sejak 2 tahun yang lalu dan pada saat itu sampai dengan sekarang, Gue bekerja di salah satu perusahaan swasta. Awal Gue tahu status Gue, Gue mikir, “Duh, gimana nih kerjaan Gue, gimana kalau sampai orang kantor tahu, jangan-jangan Gue bisa dipecat.” Tapi ternyata ketakutan Gue itu ngga terbukti tuh sampai sekarang, Gue masih bisa stay kok di kerjaan Gue, dan beban kerja Gue juga sama kayak karyawan lain.

Memang sih, Gue masih belum Berani buat cerita ke temen kantor atau bahkan pimpinan tentang kondisi Gue, tapi Gue pengen banget suatu waktu buat cerita ke mereka. Toh, selama ini kinerja Gue juga cukup apik, ngga beda sama yang lain, Gue juga lembur, kadang malah ikut ke luar kota. That’s fine, as long as you happy, do not overthinking, do not too tired, and don’t forget Your ARV!

Pernah sih ketar-ketir waktu denger mau ada tes HIV buat karyawan, sama kayak tes narkoba yang lagi ngehits nih. Tapi Gue udah positive thinking aja waktu itu. Yaa, kalau memang sudah saatnya status Gue kebuka, ya udah, mau gimana lagi, lagipula Gue juga udah ngebuktiin selama 2 tahun ini kalau Gue Bisa Bekerja Produktif, dan Gue juga ngga ada menularkan infeksi Gue kan ke pekerja lain. Itu Gue, kalau sekarang ternyata Loe juga punya nasib serupa Gue, sedang dihadapkan untuk tes HIV tapi Loe merasa keberatan.

Tenang, tes HIV itu sebenarnya tes secara sukarela, tempat kerja tidak boleh memaksakan karyawannya buat tes, ada kok peraturan menterinya. Jadi, jangan takut kalau Loe mau nolak. Yang penting sekarang adalah, Gue dan Loe ODHA, tapi buktiin kalau kita juga Bisa Bekerja, Bisa Mandiri, dan Bisa Diandalkan.

Tetap sehat, Teman !

Gue pernah mengalami yang namanya dibeda-bedakan dan dikucilkan karena gue seorang ODHA, rasanya sangat tidak mengenakkan, dan membuat gue sedih. Awalnya, gue mengira itu adalah hal wajar yang dialami oleh ODHA, karena bukan ternyata beberapa temen gue yang lain juga pernah punya pengalaman yang sama.

Setelah gue pelajari, ternyata pembedaan dan pengucilan itu yang disebut diskriminasi, ketika kita dibeda-bedakan karena status sosial kita, termasuk juga kalau itu karena status kita sebagai ODHA. Permasalahan ini tidak bisa dianggap sepele karena bisa menimbulkan efek yang buruk bagi yang menerimanya.

Gue juga pernah merasakan yang namanya “diceramahin” oleh dokter gue dengan ceramah gue harus tobat dan sebagainya ketika status gue dinyatakan positif, dan gue merasa tidak nyaman. Beberapa teman gue menolak buat datang ke klinik HIV karena merasa didiskriminasi, bahkan karena diskriminasi di lingkungan kerjanya, ada teman gue yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya.

But gue, I am done! I got to speak up, gue punya beberapa cara buat gue bisa menghadapi diskriminasi yang gue pelajari dari sekian lama diskriminasi yang gue alami yang mungkin bisa Loe pake juga.

Ketahui dulu

Kadang gue sering gak tau mana yang namanya diskriminasi dan mana yang namanya bercanda. Pun gue juga sering melakukan diskriminasi—dulu. Itu artinya gue perlu tahu mana yang namanya diskriminasi atau bukan. Menurut kamus Merriam-Webster yang gue baca, diskriminasi adalah praktek yang tidak adil terhadap seseorang atau grup dari orang-orang lain. Nah ketika gue merasa diperlakukan tidak adil, itu yang namanya diskriminasi. Serta ketika membuat diri kita tidak nyaman, juga bisa dikatakan sebagai diskriminasi. Misalnya ketika gue akses layanan kesehatan, dokter malah menceramahi tentang orientasi seks atau perilaku seks dengan dalil-dalil agama. Sementara yang lain tidak dilakukan demikian. Gue sudah bisa mendefinisikan, inilah diskriminasi.

Omongin!

Gue adalah tipe orang yang cuek, tapi setelah gue tau bahwa diskriminasi gak boleh didiamkan, I must speak out. Misalnya Gue merasa gak nyaman dengan dokter Gue karena dia nyeramahin. Gue omongin, bahwa hal itu membuat diri gue tidak nyaman. Bisa saja orang yang mendiskriminasi gue ternyata tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah menghina gue. Tapi bukan ngomongin di belakang ya Guys. Ngomongin di belakang tidak akan mengurai masalah, justeru akan menambah masalah. Karena mendiamkan kesalahan adalah sebuah kejahatan (Soe Hok Gie).

Laporkan!

Ketika diskriminasi yang gue rasakan sudah mencapai puncaknya dan bahkan sudah sampai tindakan fisik. Itu artinya gue harus berani melapor pada pihak berwajib. Karena gue hidup di Negara hukum, Negara dimana kita dilindungi oleh hukum. Menurut UUD Pasal 28B: Setiap orang berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Bagi gue, gue harus melapor. Tapi itu kembali lagi kepada loe, apakah loe siap untuk melaporkan atau tidak. Bagi gue, membalas kejahatan juga bentuk kejahatan jadi gue tidak membalas pukulan dengan pukulan. Sehingga gue memilih untuk melapor kepada pihak yang berwajib.

Break the Chain!

Ketika gue sudah sadar bagaimana diskriminasi bisa berdampak pada seseorang. Nah, gue gak mau kalau gue sendiri jadi orang pelaku diskriminasi. Karena pada dasarnya diskriminasi dilakukan karena tidak sadar, makanya segala sesuatu yang gue lakukan harus berasaskan pada hak-hak manusia. Ketika gue sudah merasakan gak enaknya mendapatkan diskriminasi, gue gak mau orang lain mendapatkan diskriminasi serupa.

Lo gak sendirian!

Faktanya, tidak sedikit ODHA yang mendapatkan diskriminasi, mulai dari di layanan kesehatan hingga di ranah pendidikan. Ini artinya, diskriminasi ini bukan terjadi pada gue saja. Gue gak mau diskriminasi ini terjadi terus menerus, dan melembaga di Negara kita. Sehingga gue memilih untuk speak-out dengan cara gue bergabung dengan organisasi Kelompok Dukungan Sebaya, yang membuat gue merasa tidak sendirian dan bisa membantu menyuarakan nasib gue.

Itu semua pengalaman gue, dan berdasarkan apa yang gue lakukan. Gue selalu percaya, satu kejadian adalah kebetulan, namun kejadian yang berulang adalah sebuah fakta yang tidak bisa didiamkan.

TB dan HIV

Dulu gue sempet bingung kenapa ketika gue memulai ARV, gue harus tes TB dulu. Ternyata ODHA lebih mudah terserang TB dibanding dengan kelompok lainnya.

Gue akan coba share mulai dari apa itu TB, cara mengetahui kita terinfeksi TB atau tidak, hingga implikasi pengobatan TB dengan ARV yang kita konsumsi.

Sebenarnya, TB itu apa sih? Menurut referensi yang gue baca, TB adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Tuberkulosis. Biasanya TB menjangkiti paru-paru, tapi tidak menutup kemungkinan untuk menjangkiti organ lain. TB biasanya menular melalui udara, biasanya ketika seorang dengan TB aktif batuk, ia akan menularkan bakteri TB ke orang lain.

Orang dengan daya imun yang kuat akan lebih sulit terinfeksi bakteri TB, tapi orang yang mempunyai gangguan dengan kekebalan tubuh, seperti halnya ODHA, akan lebih mudah terinfeksi bakteri TB. Menurut WHO (badan kesehatan dunia), TB adalah penyakit penyebab kematian terbesar pada ODHA, karena faktanya ODHA memiliki risiko 40 kali lebih besar untuk terinfeksi TB dibanding dengan orang yang HIV negatif.

TB akan aktif di paru-paru dan menyebabkan batuk selama 3 minggu atau lebih di tubuh. Gejala TB di organ tubuh lain akan berbeda-beda. TB paru didiagnosis dengan menggunakan tes dahak dan pemeriksaan Thorak (rontgen). Dan test Manthok atau tes di kulit. Setahu gue, tes Manthok ini dianggap tidak efektif bagi ODHA, karena jika HIV atau penyakit lain sudah merusak sistem kekebalan tubuh kita, bisa saja tes kulit tidak akan menunjukkan reaksi apapun pada kulit (walaupun kita terinfeksi TB).

Jika kita terinfeksi TB, perlu banget untuk sesegera mungkin diobati. Karena TB dapat mempengaruhi percepatan replikasi HIV di dalam tubuh. Sekarang sudah ada obat untuk TB yaitu Isoniazid (INH) atau Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang dikonsumsi selama enam bulan yang dikombinasikan dengan beberapa obat termasuk antibiotik untuk mencegah resistensi bakteri.

Obat TB biasanya sangat rentan terhadap reaksi obat lain, termasuk ARV. Oleh karena itu, dokter merekomendasikan untuk test TB sebelum gue mengonsumsi ARV. Untungnya gue tidak terindikasi TB, namun jika gue terindikasi positif TB, gue akan direkomendasikan untuk mengonsumsi obat TB sebelum mengonsumsi ARV. Tapi, kalau gue terindikasi terinfeksi TB setelah loe mengonsumsi ARV, penting banget untuk mengkonsultasikan dengan dokter, karena kombinasi ARV dan OAT  akan sangat melemahkan tubuh ODHA jika kondisi tubuh belum siap untuk menerima OAT.

Langkah yang direkomendasikan untuk gue ambil untuk mencegah penularan TB adalah dengan menjaga kesehatan gue. Karena orang dengan kondisi kesehatan yang baik akan lebih sulit terinfeksi TB dibanding dengan orang dengan kondisi kesehatan yang lemah.

Referensi :

Yayasan Spiritia. (2014). Lembaran Informasi tentang HIV dan AIDS untuk Orang Yang Hidup dengan HIV (ODHA). Jakarta: Yayasan Spiritia.

herbal vs arv

Info-info tentang penggunaan obat herbal yang dapat menyembuhkan HIV belakangan ini cukup bikin Gue tertarik. Apalagi kalau sudah mulai ada tanda-tanda jenuh minum ARV, capek bolak-balik layanan kesehatan, ditambah harus ngerasain efek samping lagi. Nah, tawaran buat nyoba obat herbal kan makin besar, apalagi dengan iming-iming bisa langsung menyembuhkan HIV AIDS. Tapi, apa bener HIV bisa disembuhkan dengan obat herbal/tradisional? Ini beberapa info untuk bahan pemikiran ya:

  1. HIV sangat mudah buat dimatikan. Lha kok?

HIV bisa mati dalam darah yang sudah beku atau kering dan HIV juga dapat dimatikan dengan suhu di atas ±52 derajat. Yang berarti perlu suhu yang sangat ekstrim untuk bisa mematikan virus HIV, tapi kita gak mungkin kan melakukan hal itu ke tubuh kita sendiri?

  1. Sampai sekarang, belum ada satu pun virus yang bisa disembuhkan oleh obat

Salah satu penyakit yang disebabkan virus misalnya flu. Kita selalu berulang kan kena flu? Habis minum obat, sembuh, kapan-kapan bisa kena lagi. Obat flu ngga sepenuhnya menyembuhkan, tapi hanya meringankan gejalanya saja, didukung sama kekebalan tubuh yang oke, makanya flunya bisa stop. Nah, kalau itu HIV kan kerjanya merusak sistem kekebalan tubuh kita, itu yang bikin masih sulit untuk disembuhkan.

  1. Ilmuwan di seluruh dunia masih mencari cara untuk memberantas HIV dari tubuh manusia

Karena masih merupakan tanda tanya besar untuk menyembuhkan penyakit ini, jadi kalau ada berita tentang ‘obat penyembuh’ pasti bakal bikin heboh, seperti dulu ada berita tentang buah merah, lidah tokek, atau multivitamin, dll. Tetapi sampai sekarang, belum ada yang pernah membuktikan keberhasilannya.

  1. Kemungkinan besar memang ada beberapa jamu/senyawa yang bermanfaat buat ODHA

Ada beberapa jamu/senyawa yang mungkin dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita atau dirasa punya kandungan yang bermanfaat buat ODHA. Tapi yang paling penting buat sistem kekebalan tubuh kita kan dengan pola hidup sehat. Kalau ada uang berlebih boleh juga koq buat beli multivitamin, buah, massage, dll.

Nah itu yang pernah Gue baca, tapi kembali lagi, Loe mau pakai ARV aja atau herbal itu pilihan, dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Kalo Gue, karena memang selama ini obat yang diakui bisa menekan perkembangan HIV baru ARV, ya tetap ARV donk.

Let be smart, people!

Referensi:

www.spiritia.or.id; Yayasan Spiritia. Merawat ODHA di Rumah. Jakarta; Spiritia, 2004.

Peltzer, K., Tradisional Complementary and Alternative Medicine and Antiretroviral Treatment Adherence Among HIV Patients In Kwazulu – Natal, South Africa.Reseach Peaper 2011; 7(2): 125-137.

olah raga buat odha

Bagi Loe yang gemar olahraga dan pengen olahraga lagi, jangan khawatir, olahraga itu aman kok buat kita. Tapi ada syaratnya…

Singkat cerita, Gue dulu males banget buat olahraga. Tapi sering tuh, diajakin sama beberapa temen KDS, buat jogging, gowes, terus renang. Gue Tanya ke mereka, emang ngga apa-apa? Ngga apa-apa. Oke Gue konsultasi dulu dong sama dokter Gue, dan dia bilang pun ngga apa-apa. Pas diajakin lagi, pas pikiran Gue lagi awut-awutan, ya udah Gue ikutan.

Ternyataa enaaak, capek sih (karena Gue emang jarang olahraga), badan segeran, pikiran lebih fresh, bisa chitchat sekalian. Yang awalnya males, Gue jadi ketagihan hehe.

Manfaat lain nih kalau kita olahraga: nafsu makan nambah, memperbaiki pola tidur, ketahanan jantung dan paru makin oke, mengontrol kolesterol dan mengurangi diabetes, massa otot dan kekuatan tulang meningkat, dan daya tahan tubuh juga meningkat.

Nah, balik ke syarat olahraga tadi yaa, ini tips Gue tentang olahraga buat ODHA ya:

  • Konsultasi ke dokter dulu, boleh atau engga dan jenis olahraga apa yang kira-kira oke
  • DO NOT OVER EXERCISE dan pilih jenis olahraga yang Loe nyaman + suka
  • Kalau udah mulai olahraga, bikin jadwal rutin, yang tadinya seminggu masih bolong-bolong, terus dinaikin jadi seminggu berapa kali gitu. Ngga sering ngga apa-apa, asal rutin.
  • Hati-hati, jangan sampai cedera.
  • Jangan sampai dehidrasi, bawa minum kalau pas olahraga, dan asupan makanan juga harus diperhatikan.
  • Cari temen olahraga bareng, biar tambah semangat.

Oke, syaratnya udah, sekarang apa aja sih kira-kira olahraga yang cocok buat kita?

  • Biasanya kalo buat ODHA lebih ke olahraga kardio sama meningkatkan kekuatan otot. Olahraga kardiovaskular buat meningkatkan kadar oksigen dan denyut jantung, kalau kekuatan otot juga bisa mengurangi lemak dan menyehatkan tulang.
  • Olahraga kardio misalnya jalan cepat, jogging, lari, bersepeda, berenang, lompat tali, aerobik.
  • Yang buat kekuatan otot bisa push-up, sit-up, sama angkat barbel.
  • Kalau yang agak santaian mungkin yoga apa t’ai chi gitu.

Banyak juga ya ternyata. Jadi yang bilang kalau olahraga ngga aman, ngga kok, aman selama kita mengaturnya dengan baik.

Referensi:

http://spiritia.or.id/li/pdf/LI802.pdf

http://www.thebody.com/content/62007/physical-activity-exercise-and-hiv.html?getPage=2

Nursalam dan Ninuk DK. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV. Jakarta; Salemba Medika, 2007.

open status di kantor

Pertanyaan yang biasanya akan muncul setelah kita dinyatakan HIV+ adalah apa perlu kita membuka status HIV kita, kepada siapa, dan gimana caranya, bener kan?

Pastinya gak gampang buat buka status ke orang lain. Dulu, sebelum memutuskan untuk ngebuka status, Gue disaranin sama manajer kasus untuk, yang pertama dan paling penting, adalah harus siap dengan apapun reaksi orang terhadap status Gue. Kedua, ukur seberapa penting orang-orang yang akan Gue ceritain soal status Gue, sebesar apa support yang Gue butuhin dari dia kalau emang dia sudah tahu tentang status Gue ini nantinya.

Buat Gue pribadi, keluarga perlu tahu, beberapa sahabat juga, pasangan apa lagi. Karena nantinya kan mereka-mereka ini yang bakal bantu semangatin Gue minum ARV, support Gue kalau lagi down, dan yang bakal selalu nemenin Gue.

Oke, sudah terlewati buat ngebuka status sama mereka. Terus, apa di tempat kerja wajib tahu juga? Gue masih menimbang-nimbang buat hal ini. Emang sih ada rasa takut, takut ntar kalau ketauan terus malah dipecat. Tapi sebenernya sih kalaupun perusahaan tahu, mereka gak boleh begitu saja nge-fired Gue hanya karena Gue HIV+, udah ada peraturannya juga, selama kita juga masih bisa produktif bekerja.

Keuntungan kalau orang kantor tahu, contohlah HRD, kita jadi bisa agak fleksibel buat ngatur jadwal kerja kalau lagi mau ambil obat misalnya, in case mereka bisa paham kenapa kita harus izin di setiap bulannya. Atau, kalau semisal pas kita kebetulan drop di kantor, mereka bisa siap nih, mereka tahu harus apa, hubungin siapa, dan bawa kita kemana. Setidaknya mereka bisa ngerti gimana kondisi kita. Tapi, ini tetep masih jadi polemik sih di hati Gue (dan Loe juga mungkin).

Tapi pada akhirnya, buka status atau tidak itu pilihan kita koq, kalo Gue bilang sih ditimbang aja untung dan ruginya karena situasi setiap tempat kerja tentunya gak sama kan?

Referensi:

Betterwork Indonesia. Addresing HIV and AIDS in The Workplace. (online) (http://betterwork.org/indonesia/wp-content/uploads/Guidelines-Aids-HIV-ENG-250613.pdf).

Aids.gov. Do You Have to Tell? (online) (https://www.aids.gov/hiv-aids-basics/just-diagnosed-with-hiv-aids/talking-about-your-status/do-you-have-to-tell/).