Begitu dapat status HIV+, semua orang yang peduli sama Gue pasti mendorong Gue untuk mulai terapi ARV. Terus, kalau ketemu teman sesama ODHA pasti yang ditanya adalah, “sudah mulai ARV belum?”, atau “sudah berapa lama Loe ARV?”, “Dimana Loe ngambil ARV biasanya?”

Gue yakin, semua orang yang akan terapi ARV, atau baru tau status positif HIV, pasti pernah punya pertanyaan tentang “Apa itu ARV?” termasuk Loe juga kan?

Nah, disini Gue akan coba share sedikit tentang apa yang Gue tau tentang ARV yang mungkin bisa berguna buat Loe.

ARV itu apa sih?

Awalnya Gue pikir ARV itu adalah obat yang bisa menyembuhkan HIV. Tapi ternyata bukan, ARV tidak untuk menyembuhkan HIV atau membunuh virus HIV.

ARV atau Anti Retroviral adalah obat yang dapat menghambat laju pertumbuhan virus, bukan membunuh virus. Ketika pertumbuhan laju virus ini ditekan, tubuh kita akan mampu menghasilkan sel CD4 seperti orang sehat pada umumnya.

ARV ini adalah obat yang harus rutin diminum setiap harinya sepanjang usia kita untuk mencegah pertumbuhan virus HIV, dan tentunya agar kualitas kesehatan kita sama seperti orang sehat lainnya!

ARV mencegah kita memasuki tahap infeksi AIDS. Nah tahap infeksi AIDS atau ‘Acquired Immune Deficiency Syndrome’ adalah kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan sistem kekebalan tubuh kita karena virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh kita. ARV-lah yang akan membantu tubuh Loe menjauh dari tahap AIDS ini.

Ada banyak jenis obat ARV, mulai dari Atazanavir, Darunavir, Fosamprenavir, Indinavir, Lopinavir, Nelfinavir, Abacavir, yang Hamvir Gue gak bisa hapal. Tapi gak perlu dihafal koq, yang penting buat Loe adalah gimana cara minum ARV yang benar agar terapi Loe bisa efektif.

Apa bedanya ARV dengan ART?

Setelah diatas Gue sudah bilang kalau jenis ARV itu ada banyak. Nah ART adalah Anti Retroviral Therapy dimana kita menggunakan tiga atau lebih gabungan ARV. Menurut beberapa sumber, ternyata penggunaan kombinasi beberapa jenis ARV jauh lebih baik ketimbang hanya menggunakan satu jenis ARV. Cara penggunaan obat ini mencegah munculnya resistensi atau kebal terhadap satu jenis obat ARV tertentu.

Di Indonesia, ART tetap lebih umum disebut dengan terapi ARV. So, jangan bingung, kalau ada yang bilang ART dan ARV, itu maksudnya sama koq.

Kapan mulainya?

Kata dokter Gue, sebenernya gak ada batasan yang pasti kapan kita harus mulai terapi ARV. Tapi menurut anjuran Kementerian Kesehatan, setelah terdiagnosis HIV+ kita sebaiknya segera untuk memulai terapi, kecuali kalau ada penyakit penyerta (infeksi oportunistik) yang perlu disembuhkan terlebih dahulu, seperti Tuberculosis. Yang Gue pelajari, kalau kita memulai terapi di saat kondisi kita masih sehat, efek samping yang kita dapat dari minum obat ARV akan menjadi lebih ringan dari pada kalau kita memulai saat kondisi kita sudah mulai nge-drop.

Obat ARV apa yang seharusnya Gue minum?

ARV itu sendiri ada tingkatan yang disebut ‘Lini’. Nah, saat memulai minum obat ARV, biasanya Loe akan diresepkan obat ARV golongan lini 1. Obat golongan lini 1 ini ada beberapa pilihan jenis. Kalau ternyata virus di dalam tubuh Loe resisten/kebal sehingga obat ARV yang Loe minum gagal untuk menekan pertumbuhan virus di tubuh Loe, obat itu harus diganti dengan jenis lain, atau bisa juga naik tingkatan menjadi lini 2, dan seterusnya.

Tapi ingat, setiap kali Loe ganti jenis obat atau harus pindah ke lini yang lebih tinggi, pilihan obatnya akan makin terbatas. So, harus komitmen untuk patuh biar Loe gak resisten ya!

ARV sendiri dipilih berdasarkan resistensi kita terhadap obat, status kesehatan kita saat mulai terapi, dan faktor pola hidup. Itu sebabnya sebelum Loe menjalani terapi ARV, Loe akan di tes kesehatan terlebih dahulu, baru dokter yang akan menganjurkan kombinasi ARV apa yang akan Loe minum.

Saat konsultasi dengan dokter, sebaiknya Loe bisa terbuka tentang segala informasi yang diperlukan oleh dokter, biar arah terapi Loe bisa akurat sesuai dengan kondisi yang diperlukan oleh tubuh.

Dan, pastikan untuk tanya sedetil-detilnya semua hal yang Loe pengen tau tentang obat ARV yang Loe terima ya!

Sumber:

Yayasan Spiritia. (2015). Lembaran Informasi tentang HIV dan AIDS untuk Orang yang Hidup dengan HIV (ODHA). Jakarta: Yayasan Spiritia.

Pernah atau bahkan masih bingung tentang jenis ARV apa yang Loe minum? Apa isinya? Bagaimana cara minumnya? Dan apa efek sampingnya?

Sama, Gue juga awalnya begitu. Tapi setelah banyak baca dan tanya sana sini tentang jenis-jenis ARV, Gue akan coba berbagi info tentang jenis-jenis ARV yang saat ini umumnya diresepkan untuk ODHA di Indonesia.

Mungkin bisa berguna buat Loe untuk tau sebenarnya obat jenis apa sih yang Loe minum, bagaimana cara meminumnya, apa efeknya, fungsinya buat apa, dan sebagainya.

Saat Loe mulai terapi ARV, dokter biasanya akan meresepkan kombinasi menggunakan 3 jenis obat ARV yang disebut highly active antiretroviral therapy (HAART). Kombinasi ini umumnya mencakup:

Dua jenis obat dari golongan NRTI + Satu jenis obat dari golongan NNRTI, atau Satu jenis obat dari golongan PI

Nah, berikut ini adalah jenis-jenis ARV lini pertama yang banyak digunakan:

Golongan NRTI

AZT atau Zidovudine

AZT ini dikonsumsi 500-600mg per hari. Kalau Loe ada gejala anemia (Hb darah rendah), kemungkinan dokter akan menganti AZT dengan tenovovir (TDF).

Oh iya, menurut dokter Gue, AZT ini tidak boleh dikombinasikan dengan Metadon, karena akan meningkatkan dosis dari AZT ini yang bisa menyebabkan overdosis.

Tenofovir atau TDF

Kalau TDF ini diminum sebanyak 300mg per harinya. Nah biasanya efek samping dari TDF ini bisa menyebabkan kerusakan ginjal dan hati, buat mencegah kerusakan itu penting banget buat Loe yang mengonsumsi obat ini untuk rajin-rajin minum air putih, serta rutin memeriksakan fungsi ginjal dan hati secara rutin.

3TC atau Lamivudine

3TC disediakan berbentuk tablet dengan isi 150mg dan 300mg. Untuk Loe yang mengonsumsi obat jenis ini biasanya dikonsumsi sebanyak 300mg per harinya. 3TC dapat diminum bersamaan dengan waktu makan. Pada beberapa orang 3TC bisa menyebabkan rambut rontok.

Tapi sekarang sudah ada AZT yang telah digabungkan dengan 3TC dalam satu pil yang disebut Duviral.

Emtrisitabine atau FTC

Dosis FTC yang biasa adalah 200mg sebagai satu pil sekali sehari. FTC ini pada dasarnya obat yang serupa dengan 3TC. Jadi FTC dapat diganti dengan 3TC atau sebaliknya tanpa ada risiko. FTC tidak dianjurkan pada ODHA dengan infeksi hepatitis B.

FTC dapat dipakai dengan makan atau dengan perut kosong. Buat Loe yang punya masalah ginjal, perlu banget Loe konsultasikan dengan dokter. Karena kalau Loe punya masalah ginjal, biasanya dokter akan memberikan dosis yang lebih rendah.

FTC juga tersedia dalam bentuk gabungan dengan TDF dalam satu pil, disebut Truvada.

Golongan NNRTI

Nevirapine atau NVP

Dosis nevirapine (atau neviral) yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah 200mg per hari untuk dua minggu (masa awal), kemudian 400mg per hari (200mg dua kali sehari). Kalau kita punya masalah hati, atau ada ruam yang berlebihan, dokter biasanya akan menganti nevirapine dengan efavirenz.

Efapirenz

Biasanya obat ini diminum dengan dosis 600mg sehari, dan sebaiknya dikonsumsi sebelum tidur. Efek obat ini menyebabkan pusing, dengan tidur, efek pusing gak akan terlalu Loe rasakan.

Kalau Loe gak ada gejala penyakit TB atau Hepatitis B, biasanya kombinasi obat yang direkomendasikan dokter adalah:

AZT atau Tenovofir
Ditambah
Lamivudine atau Emtrisitabine
Ditambah
Efapirenz atau Nevirapine

Efek samping yang umumnya timbul saat kita mulai terapi ARV dapat berupa mual, muntah, kelelahan, dan sakit kepala.

Saat ini sudah ada juga kombinasi ARV jenis FDC (Fixed-Dose Combination) yang mengandung kombinasi Lamivudine, Efavirenz, dan Tenofovir dalam satu kapsul. ARV ini paling rendah efek sampingnya dibanding ARV jenis lain, dan cukup diminum satu kali setiap hari sebelum tidur di jam yang sama.

Nah, sudah cukup kenal kan sama jenis-jenis obat yang sedang atau akan Loe minum?

Awalnya Gue juga sedikit takut kok buat memulai ARV karena tahu efek-efek dari samping ARV. Tapi efeknya, gak seberat yang Loe bayangkan koq. Ketika tubuh Loe dalam kondisi fit, efek sampingnya gak bakal terlalu terasa dan akan semakin berkurang begitu tubuh sudah beradaptasi dengan ARV.

Yuk mulai ARV segera!

Referensi:

Kementerian Kesehatan RI. (2010). Pedoman Pelayanan Gizi Bagi ODHA. Jakarta, Indonesia: Kementerian Kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI. (2014). Buku Saku, Pengobatan HIV untuk ODHA dan Komunitas. Jakarta, Indonesia: Kementerian Kesehatan.

Dulu Gue kira ARV itu kayak obat Tuberkulosis (TB) yang cuma diminum 6 bulanan dan setelah bisa itu sembuh total. Apa Loe pernah berpikir kayak gitu juga?

Ternyata itu keliru loh guyz!

Memang cara minum ARV tidak jauh berbeda dengan obat TB yang harus diminum di jam yang sama setiap harinya. Tapi ternyata ARV adalah obat yang harus diminum setiap hari seumur hidup dari sejak kita memulai terapi.

Memang kerja virus HIV itu seperti apa sih?

Yang Gue pelajari, virus HIV itu melumpuhkan sistem kekebalan tubuh kita. Kalau sistem kekebalan tubuh kita dirusak sama virus HIV, terus yang akan melawan bakteri, jamur, dan sumber penyakit lain di dalam tubuh kita siapa dong?

Nah, virus HIV itu kerjanya seperti nge-bajak sel CD4 di dalam tubuh kita yang menjadikan sel CD4 kita jadi pabrik untuk virus berkembang biak. Semakin banyak sel CD4 kita yang dibajak, sel CD4 kita semakin berkurang yang membuat tubuh kita jadi susah buat melawan infeksi yang masuk. Selain itu, di dalam tubuh kita juga sudah ada banyak bakteri baik, kalau jumlah CD4 kita terlalu sedikit, bisa saja bakteri-bakteri itu menjadi ganas.

Bagaimana ARV bekerja dalam tubuh?

Loe gak mau kan kalau HIV di tubuh Loe bisa membajak sel CD4 yang sehat? Nah fungsi ARV adalah menghambat HIV berkembang biak di dalam sel CD4. Kalau HIV tidak mampu berkembang biak, jumlah virus HIV yang bisa membajak sel CD4 akan semakin sedikit sehingg sel CD4 Loe tumbuh lagi ke jumlah yang seharusnya.

Setau Gue, obat ARV di dalam tubuh bekerja dalam rentang waktu 12 hingga 24 jam. Jadi, kalau Loe telat minum ARV, ada rentang dimana kerja ARV di dalam tubuh jadi tidak optimal dan ngasih kesempatan buat virus HIV membajak sel CD4 Loe. Ketika virus HIV berhasil membajak sel CD4, virusnya bisa kebal atau resisten terhadap obat ARV yang Loe minum.

Apa itu resisten?

Resisten adalah keadaan saat virus HIV di tubuh Loe jadi kebal sama obat yang Loe minum. Biasanya virus HIV yang resisten disebabkan karena Loe sering lupa minum obat atau menyepelekan ketepatan waktu, dosis, dan cara minum obat yang benar.

Kalau sampai ini terjadi, terapi ARV yang dijalani gak akan efektif lagi, dan harus mulai dari awal dengan jenis obat ARV yang lain. Capek kan harus penyesuaian lagi?

So, tepat waktu dan tepat dosis minum ARV buat Loe dan Gue di jam yang sama setiap harinya adalah WAJIB! biar tidak ngasih kesempatan untuk virus HIV di dalam untuk jadi kebal.

Buat Gue sekarang, konsumsi ARV itu ibarat makan nasi setiap hari. Kalau Gue makan nasi setiap hari karena laper, nah Gue minum ARV setiap harinya karena Gue pengen sehat.

Kalau buat orang lain mungkin pola makan bergizi itu adalah 4 sehat dan 5 sempurna, tapi buat Gue dengan mengonsumsi ARV setiap harinya, pola makan bergizi itu harus:

4 sehat, 5 sempurna, dan 6 (ARV) istimewa!

Referensi:

Kementerian Kesehatan RI. (2014). Buku Saku, Pengobatan HIV untuk ODHA dan Komunitas. Jakarta, Indonesia: Kementerian Kesehatan.

Gue pernah nanya sama teman Gue, “koq ARV yang Loe minum beda sama punya Gue?”

Nah, mungkin ini juga yang menjadi pertanyaan Loe begitu lihat jenis obat ARV yang Loe minum berbeda dengan ARV yang teman atau pacar Loe minum.

Pengen tau kenapa? Simak disini jawabannya yah!

ARV yang Gue minum cuma satu kali minum, kenapa Loe sampe beberapa butir?

Kombinasi ARV yang Gue minum adalah ARV jenis Fixed-dose Combination atau FDC, jenis ARV yang paling baru, dan kebetulan cocok sama tubuh Gue. FDC yang Gue punya ini berbentuk satu pil yang komposisi kandungannya Tenovofir, Efapirenz, dan Lamivudine. Sementara kombinasi ARV yang teman Gue konsumsi berbentuk 3 pil yang terdiri dari Tenofovir, Emrisitabine, dan Nevirapine.

Kenapa bisa beda-beda?

Karena tergantung hasil tes Pra-ARV Gue. Tes atau pemeriksaan lab Pra-ARV biasanya akan melihat fungsi hati, fungsi ginjal, dan hitung darah lengkap termasuk jumlah CD4 kita. Fungsi dari tes pra-ARV ini untuk melihat sebenarnya apakah Gue punya penyakit lainnya seperti misalnya, gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi hati, atau mungkin gejala TB. Tes ini juga untuk melihat jumlah CD4 awal di dalam tubuh sebelum Gue memulai ARV.

Kombinasi ARV menurut Kementerian Kesehatan untuk orang dewasa dan anak adalah:

Zidovudine (AZT) atau Tenovofir (TDF)
Ditambah
Lamivudine (3TC) atau Emtrisitabine (FTC)
Ditambah
Efapirenz (EFV) atau Nevirapine (NVP)

Kalau hasil tes pra-ARV menunjukkan Loe punya gangguan fungsi ginjal atau hati, atau mungkin gejala TB, biasanya dokter akan ngasih pengobatan lain yang akan disesuaikan sama kondisi tubuh Loe.

Ini penting karena, untuk ODHA yang punya gejala TB harus diobati dulu dengan obat anti TB (OAT) yang gak boleh dikonsumsi bersamaan dengan obat ARV jenis nevapirenz.

Menurut Kementerian Kesehatan RI tahun 2011, kombinasi ARV yang direkomendasikan adalah:

odha

Bisa gak Gue pinjem ARV Loe?

Nah, seperti yang Gue sampaikan tadi, jawabannya tentu adalah Gue dan Loe tidak boleh saling pinjam atau bertukar obat ARV, karena kombinasi ARV yang Loe konsumsi bisa jadi gak sama dengan kombinasi ARV yang Gue minum.

So, penting banget buat Gue untuk selalu ingat bawa obat ARV Gue sendiri kemana pun Gue pergi. Karena kalau kita menggunakan ARV yang bukan kombinasi ARV kita, selain bisa menyebabkan resistensi, mungkin akan muncul efek samping lain karena obat ARV-nya yang tidak sesuai dengan tubuh kita.

Nah sudah tau kan kenapa obat yang Gue minum berbeda dengan obat yang Loe minum?

Kalau Loe mau tau lebih banyak tentang jenis-jenis ARV di atas, Loe bisa baca di bagian “Apa saja jenis-jenis ARV?”. Atau Loe bisa banget tanya lebih lanjut sama dokter yang meresepkan ARV buat Loe.

“… when you know better, do better” ~ Maya Angelou

Referensi:

Kementerian Kesehatan RI. (2014). Buku Saku, Pengobatan HIV untuk ODHA dan Komunitas. Jakarta, Indonesia: Kementerian Kesehatan.

Memulai ARV adalah hal yang sangat membutuhkan pertimbangan buat Gue. Pertimbangan akan berbagai aspek, mulai dari pertimbangan tentang efek sampingnya ke tubuh Gue, tentang manfaat ARV buat Gue, sampai tentang apa Gue bisa konsisten minum ARV seumur hidup.

Mungkin ini juga yang menjadi pertimbangan Loe ketika ingin mulai ARV, awalnya bingung mau ARV atau enggak, gak yakin apakah Loe bakal kuat dengan efek samping ARV, hingga biaya pengobatan yang mungkin bakal perlu Loe keluarin.

Salah satu yang menjadi pertimbangan utama Gue sebelum mulai terapi adalah efek samping RV. Jujur aja, Gue sempat takut dengan efek samping yang disebut oleh beberapa referensi yang Gue baca.

Tapi jangan salah! Ternyata efek samping ini tidak separah yang Gue bayangkan koq, dan yang paling penting, bisa ditangani.

Efek samping umum dari konsumsi ARV adalah pusing, mual, gatal-gatal, lemas, dan nyeri perut. Tapi untuk beberapa orang, jenis ARV tertentu bisa menyebabkan efek lain, misalnya Efavirenz yang dapat menyebabkan permasalahan pencernaan, hingga beberapa obat yang menyebabkan gangguan fungsi ginjal.

Efek samping dari ARV biasanya berbeda-beda setiap orang. Setau Gue, ada yang pusing, mual, hingga gatal-gatal. Tapi jangan takut, efek samping ringan akan dengan sendirinya berkurang kalau tubuh Loe sudah beradaptasi dengan ARV. Kalau ada efek samping yang terasa berat, Loe bisa konsultasi ke dokter untuk mendapatkan penjelasan dan penanganan yang tepat.

Kalau buat Gue sendiri, untuk mencegah dan mengatasi efek samping dari ARV, biasanya Gue melakukan hal-hal dibawah ini yang bisa banget Loe coba!

a. Mual dan muntah

Ini biasanya disebabkan karena semua jenis ARV. Kalau Gue sendiri biasanya duduk dan coba iistirahat dengan posisi miring. Menurut dokter Gue, makan makanan seperti sereal dan roti kering juga bisa mengurangi efek muntah-muntah.

b. Diare

Kalau menurut dokter Gue, biasanya ini disebabkan karena efek ARV jenis Liponavir, ddi atau abacavir. Untuk menanggulangi ini, dokter menganjurkan buat minum air putih yang banyak agar tidak dehidrasi.

c. Pusing atau sakit kepala

Sakit kepala atau pusing biasanya disebabkan semua jenis ARV, untuk meminimalisir efek sakit kepala yang parah banget, Gue biasanya minum parasetamol. Tapi kalau gak begitu pusing, Gue hanya butuh istirahat sih.

d. Masalah kulit

Kalau masalah kulit sendiri bisa muncul karena ARV jenis nevirapine atau evapirenz. Bisa berupa kulit gatal atau ruam kulit. Untuk mengatasinya, dokter Gue menganjurkan untuk pakai lotion dan usahakan kulit dalam keadaan sejuk (dikipas-kipas). Jangan digaruk dan hindari penggunaan air hangat pada kulit.

Kalau terasa sangat mengganggu, segera konsultasi ke dokter, karena masalah kulit kadang juga bisa terjadi bukan karena efek samping, tapi karena infeksi jamur atau bakteri atau karena alergi.

e. Anemia

Loe pernah ngerasain sesak napas, pusing, pucat, dan jantung berdebar-debar? Mungkin itu gejala anemia, Loe bisa tes kadar Hb darah, dan sebaiknya dilakukan secara rutin. Biasanya dokter akan menganjurkan untuk minum obat penambah darah. ARV jenis AZT biasa mengakibatkan anemia, kalau ini terus terjadi, dokter akan mengganti AZT dengan TDF.

f. Demam

Loe pernah merasa suhu tubuh Loe yang tinggi? Atau feeling hot inside? Nah ini merupakan efek umum dari ARV. Biasanya Gue untuk mengindari Gue merasakan feeling hot inside ini dengan mengonsumsi obat sebelum tidur atau dengan anjuran dokter. Kalau demam, harus minum air putih yang banyak agak tidak dehidrasi, dan jika perlu minum 1-2 tablet parasetamol 500mg tiap 4 jam, maksimal 8 tablet per hari ya!

g. Sulit Tidur

ARV jenis efavirenz bisa menimbulkan efek ini, tapi tidak pada semua orang! Pastikan bahwa Loe tidak sedang merasa depresi, karena sulit tidur juga bisa terjadi karena perasaan depresi saat memulai terapi.

Gejala ini bisa diringankan dengan minuman yang memberi rasa nyaman, tapi bukan yang mengandung kafein (teh, kopi, minuman energy), dan bukan minuman beralkohol juga ya! Minuman jahe hangat atau susu hangat boleh dicoba (tapi kalau minum susu pastikan setidaknya berjarak satu jam setelah Loe minum obat).

Kalau ada rasa sakit atau nyeri, bisa dibantu dengan minum 1-2 tablet parasetamol 500mg tiap 4 jam. Ingat, maksimal 8 tablet per hari ya!

Itulah beberapa efek yang pernah Gue alami dengan ARV, dan mungkin pernah dan atau mungkin akan Loe alami juga.

Saat Loe menerima resep obat ARV, astikan untuk tanya detil kepada dokter tentang efek samping obat ARV yang mungkin muncul dan cara-cara menanganinya. Dan, kalau Loe merasakan efek samping yang berat, segera konsultasi ke dokter ya!

Keep calm, be healthy, and stay on ARV ya kawan!

Sebelum memulai terapi ARV, klinik atau layanan kesehatan biasanya akan melakukan beberapa tes yang harus Loe dijalani. Biasanya Loe akan diambil sampel darah, dan contoh air seni Loe, atau di-rontgen thorax (bagian dada) jika perlu.

Hasil tes-tes ini akan menjadi dasar buat dokter untuk menentukan kombinasi jenis ARV yang tepat buat Loe.

Test Kimia Darah

Test ini berfungsi untuk melihat kandungan kimia di dalam darah seperti, kandungan kalsium, fosfor, hingga elektrolit darah. Tes kimia darah ini bertujuan untuk melihat jenis ARV apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Misalnya, kalau Loe punya kekurangan Hb atau zat besi dan Gue engga, kemungkinan jenis ARVyang Loe dapat akan berbeda dengan ARV yang Gue dapat. Karena kekurangan Hb bisa menyebabkan anemia atau kurang darah, dan salah satu efek samping dari ARV jenis AZT adalah menyebabkan anemia.

Tes Fungsi Hati

Biasa disebut juga tes kadar SGOT & SGPT. Tes ini untuk melihat kalau ada infeksi Hepatitis atau ada kerusakan hati yang mungkin kita alami. Biasanya fungsi hati juga akan mempengaruhi ARV jenis apa yang akan kita konsumsi. Atau kalau kita punya Hepatitis tertentu dan belum terapi ARV, kita bisa diarahkan untuk diobati gejala hepatitisnya terlebih dulu sebelum memulai ARV.

Test CD4

Selain berfungsi untuk melihat mana ARV yang cocok buat Loe, pemeriksaan lab juga berfungsi untuk melihat efektifitas obat ARV terhadap tubuh Loe nantinya. Nah, termasuk tes CD4 ini. Jumlah CD4 orang normal adalah 500-1600 mm3. Kalau dalam 3 bulan setelah mulai terapi (dan selanjutnya rutin setiap 6 bulan) jumlah CD4 menunjukkan peningkatan, artinya pengobatan ARV Loe efektif.

Oh iya, untuk tes kimia darah, fungsi hati, dan tes jumlah CD4 semuanya dilakukan melalui pemeriksaan sampel darah.

Tes Fungsi Ginjal

Fungsi ginjal di periksa melalui test urin, Kalau Gue dulu disuruh buang air kecil di sebuah wadah, dan nanti petugas lab akan memeriksa apakah ada endapan protein dalam urin (indikasi gangguan fungsi ginjal) atau tidak, dan kandungan-kandungan lainnya.

HIV dapat mengakibatkan kegagalan ginjal karena infeksi virus HIV pada sel ginjal, dan ARV jenis tenofovir berpotensi menyebabkan masalah ginjal. Dokter harus tahu kalau kita memiliki masalah ginjal, agar takaran obat bisa disesuaikan dan tidak memperberat kerja ginjal.

Pemeriksaan TB

Dokter juga perlu memastikan apa Loe ada gejala TB atau tidak. Kalau secara klinis dicurigai ada gejala TB, mungkin Loe akan diminta untuk periksa dahak dan rontgen thorax (bagian dada). Kalau hasilnya Loe positif TB, dokter akan lebih dulu mengobati dengan Obat anti-TB (OAT), sebelum mulai terapi ARV.

Setelah tes itu semua, Dokter akan menjelaskan hasil tes Loe dan memberikan rekomendasi kombinasi ARV yang cocok buat keadaan tubuh Loe. Dan, Loe boleh tanya detil ke dokter tentang obat ARV yang akan Loe konsumsi, termasuk tentang kenapa Loe diberi jenis ARV tertentu dan bukan yang lain.

Sumber bacaan:

http://spiritia.or.id/li/li-index.php#tes
http://spiritia.or.id/dokumen/buku-hivtb.pdf

Buat Gue, memulai langkah pertama untuk hal apapun itu selalu gak gampang. Memulai kerjaan atau usaha baru, memulai hubungan baru, memulai hidup di tempat baru, atau bahkan untuk hal sesederhana seperti mememulai nge-gym, juga ternyata ga mudah. Seperti orang bilang “the first step is always the hardest step to d”, tapi kalau dipikir lagi Gue gak pernah akan kemana-mana kalau langkah pertama pun gak berani Gue ambil, ya kan?

Nah, sama sebenarnya dengan saat Gue memulai minum atau terapi ARV. Pastinya Gue gak akan bisa mulai kalau Gue gak berusaha buat nyari tahu dimana Gue bisa dapat ARV, kan? So, langkah pertama sebelum tahu caranya meminum ARV, yang penting buat Gue dan Loe tahu adalah bagaimana caranya mengakses ARV.

Susah gak?

Gampang koq, Loe cuma perlu dateng ke layanan kesehatan atau klinik yang menyediakan ARV dan punya layanan pra-ARV. Loe bisa lihat pilihan klinik-kliniknya di menu “Klinik Gue” buat tau klinik yang paling dekat dari rumah, kampus atau kantor Loe. Loe cukup datang bawa bukti hasil test HIV yang menyatakan bahwa Loe HIV+, dan bawa kartu identitas, lalu bilang ke petugas pendaftarannya kalau Loe mau terapi ARV.

Sebelumnya ngapain dulu?

Sebelum terapi ARV, setahu Gue ada beberapa tes yang perlu dilakukan seperti tes CD4, tes fungsi hati, urin, dan rontgen dada. Dokter di klinik yang akan menentukan jenis tes apa yang Loe perlukan. Semua tes itu tujuannya buat mengetahui status kesehatan organ tubuh kita secara mendalam. Karena, sebelum mulai ARV, bisa jadi ada penyakit yang harus diobati dulu, atau ada gangguan fungsi tubuh yang membuat tubuh Loe gak akan cocok dengan jenis ARV tertentu. So, penting buat terbuka sama si dokter biar persiapan terapi Loe benar-benar bagus.

Dimana?

Jelas di harus di klinik yang punya layanan ARV & pra ARV. Klinik tempat memulai terapi ARV ini bakal jadi seperti “rumah” yang akan Loe datangi tiap bulan. So, penting untuk memastikan klinik ini cocok dan nyaman buat Loe. Mungkin Loe bisa memilih klinik yang direkomendasikan pendamping Loe, atau teman yang sudah pernah akses ARV di klinik itu. Tapi, Loe sebenarnya bisa koq suatu saat pindah klinik kalau nantinya merasa klinik yang sekarang terlalu jauh, jam bukanya gak sesuai dengan waktu luang Loe, atau karena alasan lainnya.

Terus ngapain?

Setelah status kesehatan Loe sudah diketahui, biasanya dokter akan memberikan rekomendasi jenis ARV yang tepat buat tubuh Loe saat mau mulai terapi. Jenis obat ARV itu ada banyak (baca: “Apa Saja Jenis-jenis ARV”), salah satu obat ARV yang terbaru adalah jenis fixed-dose combination atau FDC. FDC ini bentuknya satu pil yang mengandung ARV jenis Efavirenz, Lamivudine, dan Tenovovir. Terapi ARV dengan FDC jadi lebih gampang karena cukup minum satu pil per hari, dan obat ini juga punya efek samping yang lebih sedikit ketimbang jenis ARV yang lain. Loe boleh koq tanya detil ke dokter, tentang jenis obat ARV yang diresepkan buat Loe.

Harganya?

Sejauh ini, obat ARV golongan lini 1 atau obat stadium pertama masih gratis. ARV lini 1 inilah yang akan Loe dapat saat pertama kali mulai terapi ARV. Loe bisa dapat ARV golongan ini di setiap klinik yang punya layanan ARV di Indonesia. Tapi ingat, prosedurnya adalah, begitu Loe terdaftar di satu klinik sebagai penerima ARV, Loe harus terus mengambil ARV di klinik itu, kecuali suatu saat Loe minta pindah klinik karena alasan tertentu.

Nah, itu cara Gue mengakses ARV. Gak sesulit yang Loe kira kan?

Kalau Gue Bisa, Loe juga pasti Bisa!

*) http://www.sajhivmed.org.za/index.php/hivmed/article/view/104/168

Begitu secara fisik Loe dinyatakan siap untuk mulai terapi ARV, ada hal yang juga gak kalah penting selain kesiapan fisik dan tes-tes yang udah Loe lakukan, yaitu:

Kesiapan mental.

Kenapa mental? Karena ARV harus Loe konsumsi seumur hidup agar virus yang ada di dalam tubuh tidak bisa memperbanyak diri. Nah, untuk bisa konsisten dan disiplin untuk terapi Loe butuh tekad yang kuat dan semangat yang tinggi untuk memulai ARV. Semangat untuk sehat, semangat untuk hidup lebih baik!

Terdengar sulit? Awalnya mungkin iya, tapi seiring berjalannya waktu Loe pasti akan mulai terbiasa dengan rutinitas minum obat. Begitu minum ARV sudah masuk ke dalam pola hidup Loe sehari-hari, pasti akan muncul sesuatu terasa yang kurang kalau satu hari Loe belum minum obat.

Lalu, hal apa lagi yang mungkin harus diantisipasi saat memulai ARV?

Seperti obat-obatan lainnya, pada beberapa orang akan muncul efek samping dari konsumsi obat. Akan tetapi efek samping hanya akan terjadi pada sedikit sekali pengguna ARV, terutama buat Loe yang mulai terapi saat kondisi tubuh Loe masih sehat.

Efek samping yang sering timbul biasanya adalah rasa mual-mual, yang akan hilang dengan sendirinya seiring dengan tubuh Loe yang sudah beradaptasi dengan ARV, begitu pula efek samping lain yang mungkin timbul akibat dari proses adaptasi tubuh Loe terhadap obat ARV.

Apakah Loe harus berhenti ARV saat muncul efek samping?

Untuk efek samping ringan yang Loe rasa masih bisa Loe hadapi ya terusin saja konsumsi ARV-nya, karena memang semua obat akan ada efek samping.

Tapi untuk beberapa kasus yang memang memiliki efek samping berat maka Loe harus konsultasi ke dokter, dan nanti dokter yang akan menentukan apakah Loe perlu ganti jenis obat ARV lain atau tidak.

Untuk lebih baiknya, saat baru memulai ARV, Loe harus sering konsultasi dengan dokter mengenai keadaan kesehatan Loe, dan tanya sebanyak-banyaknya tentang kemungkinan efek samping (ringan & berat) yang mungkin akan muncul karena obat ARV yang Loe dapat, plus gimana cara menanganinya.

Pada awal pertama kali Loe di resepkan ARV oleh dokter, dokter biasanya akan memberikan persediaan ARV selama 1 atau 2 minggu saja. Tujuannya untuk melihat perkembangan apakah ARV yang Loe konsumsi tidak menimbulkan efek samping yang berarti. Ini perlu dilakukan biar Loe juga mulai terbiasa secara teratur mengunjungi dokter untuk memonitor kondisi kesehatan Loe. Saat semuanya sudah dianggap OK, dokter akan selalu memberi resep ARV untuk persediaan untuk selama 1 bulan atau 30 hari.

Nah, sudah siapkan untuk mulai ARV segera?

Selain tanya ke dokter, Loe juga bisa tanya ke teman-teman yang sudah pernah memulai ARV untuk memastikan apakah hal-hal yang Loe rasakan setelah konsumsi ARV adalah reaksi wajar atau tidak. Klik menu ‘Teman-teman Gue’ dan Loe bisa gampang dapat teman untuk sharing disitu.

Kalau teman-teman Loe BISA memulai, Loe juga pasti BISA! koq.

The first step is you have to say that You CAN!” ~ Will Smith

Saat Loe udah siap (harus siap) dan bisa (harus bisa) memulai ARV, ini adalah saatnya Loe memulai hidup Loe dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang bakal membuat hidup Loe lebih baik.

Saat awal memulai, Loe akan butuh seseorang yang mengingatkan Loe akan rutinitas Loe yang baru ini, yaitu minum ARV. Mungkin pada awalnya Loe masih belum terbiasa dan mudah lupa bahwa ini waktunya Loe minum ARV. Seseorang tersebut bisa jadi teman Loe, keluarga Loe, atau bahkan pasangan Loe. Tapi, kalau memang Loe belum siap untuk memberitahukan mengenai status HIV Loe ke orang dekat, Loe bisa juga tanya ke klinik tempat Loe tes mengenai informasi Pengawas Minum Obat (PMO), atau Loe bisa kontak teman-teman Buddies yang ada di menu ‘Teman-teman Gue’.

PMO/Buddies ini akan dengan senang hati mengingatkan Loe saat waktunya buat Loe minum ARV sampai Loe udah bener-bener terbiasa dengan rutinitas tersebut. Atau kalau Loe memang merasa Loe bisa mandiri, saran Gue adalah Loe atur alarm di ponsel atau jam tangan buat jadi pengingat waktu minum ARV Loe.

Ingat, ARV harus diminum secara teratur pada jam tertentu setiap hari dan gak boleh terlewat sekalipun. Kalau Loe gak teratur minum ARV, maka virus dalam tubuh Loe akan jadi lebih kuat dan bisa kebal terhadap obat ARV yang Loe minum, akibatnya Loe harus ganti jenis ARV dan Loe harus memulai semuanya lagi dari awal. Bakal ribet lagi kan?

Pada sedikit orang, ARV dapat menimbulkan beberapa efek samping yang bakal Loe alami sesaat setelah Loe minum ARV, atau ada juga yang mengalami efek samping yang timbul setelah beberapa jangka waktu terapi. Efek samping itu biasanya bersifat ringan, misalnya mual berkelanjutan atau kulit yang berubah jadi cenderung kering dan atau nampak lebih gelap dari sebelumnya, dan beberapa efek samping lainnya yang bisa berbeda pada tiap orang.

Efek samping mual dapat sangat mengganggu apabila terjadi terus menerus, Loe bisa menanganinya dengan cara meminta resep dokter untuk anti mual, atau Loe bisa meminum minuman yang dapat mengurangi rasa mual Loe seperti teh atau air jahe hangat.

Kalau untuk keadaan kulit yang terasa kering dan jadi lebih gelap, Loe bisa atasi dengan menggunakan produk pelembab kulit biasa. Efek samping seperti ini akan berkurang seiring dengan waktu. Untuk efek samping lain yang Loe rasa membuat Loe ga nyaman, Loe bisa konsultasi dengan dokter agar diberikan solusi terbaik buat Loe tanpa harus berhenti minum ARV.

Kapan Loe harus datang ke klinik untuk ngambil persediaan ARV Loe?

Saran Gue, seminggu sebelum ARV Loe habis, Loe udah harus datang ke klinik untuk mengambil persediaan ARV Loe. Hal tersebut untuk menghindari stock obat ARV Loe habis banget dan ternyata klinik tempat akses ARV Loe tutup pada hari itu yang bisa membuat Loe jadi kehilangan satu dosis minum obat.

Untuk menghindari keadaan-keadaan lain yang dapat menyebabkan Loe kehabisan persediaan ARV, biasakan untuk mencatat tanggal kunjungan Loe saat ambil ARV. Biasakan juga untuk menghitung sisa persediaan ARV yang Loe punya. Dengan begitu, Loe akan dapat menilai tingkat keteraturan Loe minum ARV.

Sebaiknya, beli tempat untuk menyimpan ARV Loe, lebih baik lagi tempat penyimpanannya yang mencantumkan nama hari-hari biar Loe tau apakah hari tersebut Loe udah minum obat atau belum. Tempat penyimpanan ini juga akan memudahkan Loe membawa ARV saat Loe bepergian.

Kalau Loe keluar kota dan Loe lupa bawa ARV gimana? Segera cari informasi dan kunjungi Puskesmas atau layanan tes HIV terdekat. Biasanya mereka punya informasi dimana Loe bisa akses ARV sementara Loe berada di daerah tersebut.

Menjalani ARV adalah kontrak seumur hidup untuk orang dengan HIV seperti Gue dan Loe. Tapi kontrak ini adalah satu-satunya cara agar hidup kita menjadi lebih baik seperti orang yang tidak hidup dengan HIV.

Saat menjalani ARV, Loe harus punya semangat yang kuat. Loe harus yakin bahwa keadaan Loe akan jadi lebih baik, hidup akan jadi lebih baik, semuanya akan jadi lebih baik.

Kalau yang lain bisa, Gue BISA, Loe juga PASTI BISA!

“Incredible change happens in your life when you decide to take control of what you do have power over…” ~ Steve Maraboli

Right Here Right Now, this is a beginning of your life

Gue pernah baca di satu sumber bahwa hanya 3 dari 10 ODHA yang mengonsumsi ARV setelah terdiagnosis positif HIV.

Bagi gue, ini adalah angka yang sangat kecil. Gue juga awalnya memang sangat ragu untuk memulai ARV atau tidak, dan bahkan terlintas di kepala gue untuk mengabaikan status HIV gue. Tapi setelah banyak cari info dan tanya sana-sini, ternyata manfaat ARV banyak sekali, salah satu yang terpenting adalah memperpanjang usia hidup gue. Karena gue gak mau mati muda. Dulu, gue ragu untuk memulai ARV karena alasan; takut efek samping obat, bingung, dan yang terburuk “males”.

Kalau tidak sekarang, besok efeknya akan lebih hebat

Ketakutan gue mengenai efek samping itu cuma akan menghambat gue buat sehat. Karena kata dokter gue, efek samping dari ART untuk setiap orang berbeda-beda, tergantung kondisi kesehatan, jumlah CD4, gen, hingga hormon gue. So, sebagian orang menunda ARV sampai CD4nya menurun drastis. Padahal di memulai ARV pada kondisi ini biasanya efek samping yang ditimbulkan akan semakin hebat karena kekebalan tubuh semakin menurun. Gue gak mau merasakan efek samping luar biasa.

Tapi gue sempat bingung, dimana tempat gue bisa mengakses ARV. Setelah gue mencari informasi, gue bisa koq menemukan klinik yang tepat, nyaman buat dengan gue, dan gampang untuk gue akses.

Jangan tunggu sakit dulu

Gue gak mau jatuh sakit, kemudian gue baru memulai ARV. Karena jika kita mengonsumsi ARV dalam kondisi sakit, bisa saja menyebabkan Infeksi Oportunistik. Infeksi Oportunistik (IO) adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, parasit, jamur, atau virus yang menyebabkan masalah kesehatan karena sistem imun yang rusak. Ketika kita sakit, dan memiliki kekebalan tubuh sudah sangat minim. IO seperti malaria, herpes, hingga TB bisa menyerang tubuh kita dengan mudah.

Resiko penularan semakin kecil

Yang gue tahu, ARV bisa membuat jumlah HIV di tubuh gue menjadi semakin rendah. Ketika jumlah HIV sudah sangat rendah, maka resiko penularan ke orang lain juga semakin rendah. Tapi ini bukan berarti resiko penularan ke orang lain menjadi hilang sama sekali ya. ARV hanya bisa menekan jumlah virus yang ada di darah, yang padahal virus HIV banyak bersembunyi di kelenjar-kelenjar tubuh, dan paling banyak di sum-sum tulang belakang. Jadi gue gak akan berhenti ARV meskipun HIV di darah gue sudah sangat rendah bahkan tidak terdeteksi.

Karena Gue tahu kalau perilaku gue berisiko tinggi

Menurut kementerian kesehatan, buat orang-orang yang punya perilaku berisiko tinggi untuk tertular atau menularkan HIV seperti lelaki yang berhubungan seks dengan sesama lelaki, waria, pengguna narkoba suntik, dan pekerja seks disarankan untuk memulai terapi ARV tanpa melihat jumlah CD4. ODHA yang sudah mengonsumsi ARV secara konsisten dan bisa mencapai level virus tidak terdeteksi di dalam darah (Undetectable Viral Load) kemungkinan untuk menularkan virus HIV ke orang lain bisa ditekan menjadi minimal.

Kesiapan dan komitmen gue

Ketika kita memulai ARV, gak bisa sembarangan, ada beberapa tes lab yang perlu gue jalani sebelum memulai ARV. Hasil tes-tes tersebut akan menjadi dasar pertimbangan dokter untuk menentukan arah terapi ARV gue termasuk pengobatan penyakit lainnya kalau ditemukan gejala infeksi oportunistik.

Dokter juga sebelumnya mengecek kesiapan gue untuk berkomitmen terhadap pengobatan ARV. Terapi ARV ini seperti menikah, begitu memulai maka artinya kita harus berkomitmen seumur hidup untuk bisa konsisten agar tidak putus obat di tengah jalan yang berdampak buruk buat tubuh gue. Karena itu pertimbangan antara informasi dari dokter dan keputusan gue untuk memulai ART menjadi sangat penting.

Tapi seperti halnya menikah, kalau sudah yakin bahwa ARV (untuk saat ini) adalah satu-satunya cara untuk membuat hidup gue sebagai ODHA menjadi lebih baik, kenapa harus ragu dan menunda-nunda kan?

resisten minum obat arv

Gue kok ngerasa ngga ada perkembangan ya habis minum ARV, padahal Gue selalu tepat waktu buat minum ARV setiap hari. BB Gue juga turun, infeksi oportunistik (IO) Gue yang lama balik lagi, mana ketambahan IO baru lagi.

Begitu konsul ke dokter, dan Gue disarankan buat tes viral load (VL) dan CD4. Hasilnya jumlah VL Gue naik, dan CD4 Gue turun. Kenapa lagi ini?

Dokter Gue pun menjelaskan kalau itu bisa saja karena Gue udah ’kebal obat’ atau virus di dalam tubuh Gue sudah resisten terhadap ARV.

Kok bisa sampai resisten?

  1. Bisa jadi karena Gue pernah kelupaan buat minum obat, no, bukan pernah tapi lumayan sering. Kelupaan ini yang bisa bikin HIV masih bisa bereplikasi di dalam tubuh, karena dosis obat tidak cukup untuk menekan perkembangannya. Virus ini kemudian bisa menghasilkan virus ‘mutan’ yang resisten sama ARV.
  2. Bisa juga karena Gue terinfeksi oleh virus HIV yang memang sudah kebal duluan terhadap ARV yang Gue minum. Pikiran Gue pun kemana-kemana waktu ndenger penjelasan itu, apa jangan-jangan Gue emang resisten ya? Tapi Gue juga takut kalau ternyata nanti udah ganti obat, kondisi Gue ya sama kayak sekarang ini.

Dokter pun akhirnya menyarankan kalau ada lagi tes yang bisa memastikan apa bener Gue resisten, tapi agak lebih rumit, namanya tes fenotip dan tes genotip. Kalau tes fenotipe (membiakkan virus HIV dari tubuh kita di lab, kemudian mengujinya dengan ARV yang kita konsumsi, dan melihat resistensinya) dan genotipe (melihat kode genetik virus apakah ada yang bermutasi untuk resisten dengan obat).

Dari hasil tes itu, Gue udah dinyatakan sudah resisten dan harus ganti ke lini kedua, dan penyebabnya adalah salah satu dari kedua alasan tadi.

Bagi Loe yang pernah ngalamin hal yang Gue juga alamin di awal tadi, Loe jangan langsung panik dan langsung minta ganti obat. Loe harus konsultasi ke dokter dulu buat dicari apa penyebabnya.

Dan yang penting, untuk menghindarinya adalah dengan terus rutin dan konsisten minum ARV, karena banyak kasus resisten terjadi karena kurang disiplin minum ARV.

cd4

“Gue udah berbulan-bulan rutin kok minum ARV, gak pernah telat dan gak pernah bolong dosisnya, tapi kenapa CD4 Gue masih segitu-gitu aja ya?”

Jadi, ceritanya begini, ketika HIV masuk ke dalam tubuh, dia menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel CD4. Virus HIV menjadikan sel CD4 sebagi pabrik pembuatan virus yang baru, virus yang baru lalu menyerang CD4 lain, seterusnya begitu, sampai akhirnya jumlah sel CD4 di dalam tubuh berkurang dan jumlah virus semakin banyak.

Obat ARV membantu menghambat proses pembuatan virus dalam sel CD4 tadi. Jadi diharapkan kalau jumlah virus HIV tidak semakin bertambah, sel CD4 bisa tumbuh dan memulihkan kembali sistem kekebalan tubuh kita.

Nah, kalau ada kasus Loe udah minum ARV berbulan-bulan atau tahunan tapi CD4 tetep ga naik juga, atau naiknya sedikit sekali, kenapa ya?

Ternyata, naik turunnya CD4 ini bisa karena berbagai alasan, misalnya masalah pengobatan. Bisa jadi jenis obat ARV yang dikonsumsi tidak cocok, atau kebetulan Loe lagi make obat lain atau jamu/suplemen yang ternyata berinteraksi negatif sama ARV. Bisa juga karena dosis ARV yang Loe minum kurang tepat karena sering tidak tepat waktu minum atau bahkan sampai kelupaan minum.

Sebab lainnya bisa juga karena perbedaan waktu dan tempat melakukan tes CD4. Jumlah sel CD4 bisa beda-beda setiap harinya, tergantung pada aliran darah dalam tubuh, ada infeksi atau penyakit lain tidak. Jadi kalau emang mau tahu dengan bener jumlah CD4, Loe bisa cek secara rutin. Biasanya tes CD4 akan dilakukan setiap 3-6 bulan setelah mulai terapi ARV. Nanti akan keliatan gimana perkembangan jumlah CD4nya. Kalau jumlahnya belum konsisten, Loe bisa ulang tesnya, tapi kalau diliat ada perkembangan, maka Loe bisa tes CD4 kembali setiap 6-12 bulan. Dan apabila setelah pengulangan tes itu, jumlah CD4 Loe sudah cenderung meninkat normal, apalagi didukung dengan hasil tes viral load yang gak ke detect, maka tes CD4 bisa dipending dulu.

Ingat, penting untuk konsisten melakukan tes CD4 di waktu dan tempat yang sama, agar perbandingannya antara tes CD4 terbaru dengan yang sebelumnya. Contoh, selalu tes di siang hari (antara pukul 1 s/d 3 siang, di lab RS. A). Dan jangan tes CD4 kalau Loe sedang dapat infeksi lain selain HIV sendiri).

Kalau memang di waktu tes CD4 pertama setelah terapi jumlahnya segitu aja sama kayak sebelum terapi, Loe bisa konsultasi ke dokter untuk tahu apa perkiraan penyebabnya.

minum arv

Buat Gue, kesiapan diri merupakan syarat wajib untuk Gue memulai terapi ARV. Tapi itu bukan syarat satu-satunya, penting selalu buat konsultasi ke dokter tentang saat yang tepat buat kita untuk mulai terapi.

Sekarang sangat dianjurkan buat mulai terapi saat jumlah CD4 kita masih tinggi. Dengan minum ARV sejak dini bisa membuat kita terhindar dari risiko infeksi oportunistik. Tapi ada beberapa temen juga yang baru mulai minum ARV disaat jumlah CD4-nya sudah mulai menurun tetapi akhirnya bisa pulih kembali dan jumlah CD4 pun berangsur naik.

Nah, apa aja sih plus minus kalau kita memulai lebih dini atau menunda buat memulai minum obat ARV?

  • Memulai lebih dini

Plus : Virus lebih mudah untuk dikendalikan, mengurangi risiko terjadinya kebal obat(resisten), menunda atau mencegah kerusakan pada sistem kekebalan tubuh.
Minus : Efek samping terasa lebih cepat dan berat.

  • Menunda

Plus : Menghindari efek samping, mengurangi beban pikiran dan kewajiban untuk patuh minum obat.
Minus : Bisa menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh, dan jumlah viral load bisa semakin banyak.

Terlepas dari plus minus mau menunda ataupun memulai lebih dini untuk minum obat ARV adalah kita harus siap dan yakin. Cari informasi yang banyak tentang ARV, tentang efek sampingnya, cara menangani efek samping, kiat-kiat buat ngurangin jenuh dan lupa minum obat. Kemana nyarinya? Bisa tanya ke dokter, lihat referensi terpercaya tentang HIV & AIDS di internet, atau tanya ke temen ODHA atau temen-temen KDS.

Memang, memulai lebih dini akan terasa lebih baik, tapi daripada dipaksakan dan Loe ngga bisa komitmen, mungkin dengan memundurkan sedikit waktu untuk memulai minum obat bisa juga lebih baik.

Tapi ingat, menunda memulai ARV tujuannya BUKAN untuk menunggu sampai kita nge-drop ya! Tapi untuk MENYIAPKAN diri agar komitmen kita bisa lebih baik begitu mulai terapi. Dan penting untuk terus KONSULTASI dengan dokter begitu kita terbukti HIV+ untuk tahu saat yang tepat memulai terapi!

Referensi:

http://spiritia.or.id/
Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi
Antiretroviral pada Orang Dewasa Tahun 2011.

waktu

Mungkin begitu Loe tahu kalau ARV harus dikonsumsi setiap hari dan sepanjang hidup Loe, rasanya kayak, “What, it must be boring?” Gimana kalau Gue tiba-tiba lupa, terus telat minum, ya susah kali buat selalu ontime setiap saat”.

Gue pun gitu, perasaan Gue campur aduk waktu Gue tahu prasyarat wajib buat minum ARV. Nah, sebenarnya apa sih alasannya jadi kita mesti disiplin/patuh minum ARV? Jadi kerja obat ARV itu adalah untuk menekan replikasi virus (memperbanyak diri) di dalam darah. Diperlukan dosis obat ARV yang sesuai untuk benar-benar bisa menekan replikasi virus HIV. Kalau dosis obat yang masuk itu rendah (karena kepatuhan berobat yang rendah), si virus akan tetap bereplikasi semakin banyak, dan menghasilkan virus-virus baru yang bisa kebal terhadap obat (resisten).

Harus melakukan hal yang sama, di waktu yang sama, dan dalam jangka waktu yang lama pasti bakalan bikin bosen kali ya, apalagi yang namanya minum obat. Pasti bakal jenuh, kadang- kadang males terus lupa, apalagi kalau efek sampingnya juga kerasa banget di badan, duhh udah deh yaa, alasan-alasan jitu buat bikin kita gak disiplin minum obat ARV.

Tips Gue buat Loe yang akan mulai minum ARV, yang pertama, harus SIAP. Karena, setiap kita akan memulai sesuatu yang baru, kita harus siap, kan? Nah, apalagi minum ARV adalah komitmen seumur hidup, jadi penting banget buat Loe untuk siap dan yakin bisa menjalaninya.

Yang kedua adalah PENGINGAT! Pakai cara yang biasanya paling efektif buat bikin Loe gak lupa sama suatu hal. Bisa tulis di dinding kamar, di buku agenda, atau bikin alarm di gadget Loe buat ngingetin jam minum obat. Terus gimana kalau tiba-tiba males, bosen, lupa lagi? Loe bisa kok minta bantuan temen, KDS, saudara, keluarga, atau pasangan buat ngingetin minum obat.

Pokonya anything, yang bisa bikin Loe tetep semangat dan ontime buat minum ARV. Tapi, kalau semisal Loe sudah memulai minum ARV dengan siap, dan Loe punya reminder dimanapun tapi kadang masih suka ngaret minum. Loe bisa aja langsung konsultasi ke dokter dan merundingkan solusi terbaiknya apa. Jangan diem aja ya!

Pengalaman gue sih suka lupanya di minggu-minggu awal aja, begitu sudah bulan kedua dan seterusnya udah serasa kayak jadwal sikat gigi sebelum tidur aja, kalau belum dilakuin belum sreg!

Referensi:

Spiritia. Kepatuhan terhadap Terapi. (onine) (http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=405Yuniar Y, Rini SH, dan Ketut A. Faktor-Faktor Pendukung Kepatuhan Orang dengan HIV AIDS (ODHA) dalam Minum Obat Antiretroviral di Kota Bandung dan Cimahi. Buletin Peneliti Kesehatan 2013; 41(2): 72-83.

mitos arv

ARV adalah pengobatan medis bagi ODHA untuk memperpanjang harapan hidup ODHA. Meski demikian, masih banyak mitos-mitos yang beredar tentang ARV yang gue ketahui. Baik di kalangan ODHA maupun masyarakat luas.

Awalnya, gue percaya saja mitos-mitos mengenai ARV, misalnya mitos mengenai adanya pengobatan HIV selain ARV. Tapi setelah gue banyak tanya ke dokter, mempelajari info-info terpercaya, hingga pengalaman gue, gue baru tahu bahwa beberapa hal yang selama ini gue percayai adalah mitos.

Nah, ini dia 5 mitos mengenai ARV yang pernah gue ketahui.

Mitos #1: Ada obat untuk menyembuhkan HIV

Ada kok, namanya ARV. Yang gue tahu, jika kita rutin mengonsumsi ARV. HIV dalam darah kita akan semakin sedikit bahkan hingga tidak terdeteksi lagi. Namun virus HIV biasanya bersembunyi di kelenjar-kelenjar tubuh. Mitos yang beredar HIV bisa disembuhkan dengan obat-obatan herbal.

Setau gue, sampai saat ini belum ada khasiat dari obat-obatan herbal yang dapat membunuh HIV secara menyeluruh. Menurut dokter gue, gak apa-apa kalau gue minum obat-obatan herbal seperti jamu-jamuan. Tapi jangan sampai lupa kalo gue masih juga harus mengonsumsi ARV. Obat-obatan herbal hanya untuk mendukung pemulihan tubuh gue, bukan menghilangkan virus HIV dalam tubuh gue.

Mitos #2: ARV adalah konspirasi dan produk Amerika

Hmm, pernah berpikir seperti itu? Wait, ARV adalah konspirasi? Bagaimana kita tahu? Teori konspirasi singkatnya seperti pribahasa “ada udang dibalik batu” dengan melakukan segala cara termasuk cara-cara yang mengatasnamakan kebaikan demi tujuan keuntungan pribadi. Jika benar ARV adalah produk Amerika, lalu kenapa angka infeksi HIV di Amerika juga sangat tinggi? Setau gue, angka infeksi HIV di USA mencapai lebih dari 1.2 juta jiwa dan 1 dari 8 ODHA tidak peduli dengan infeksi mereka.

Meksipun benar bahwa HIV ditemukan pertama kalinya ditemukan di AS. Menurut gue, gak mungkin dong kalo teori konspirasi juga tetap merugikan negaranya sendiri? Ini berarti tidak mengindikasikan adanya konspirasi penyakit demi keuntungan negara Adi Kuasa itu. And for the record, Indonesia telah memproduksi sendiri beberapa jenis ARV dengan merek generik.

Mitos #3: ARV membuat gue semakin sakit

Beberapa teman gue cerita bahwa ARV itu cuma bikin sakit, bikin mual, bikin pusing. Sebelum mengonsumsi ARV hidup teman-teman gue sehat-sehat saja. But hold on, itu namanya efek samping, dan memang biasa terjadi kok. Dokter gue bilang, ya memang kalau kita mengonsumsi ARV dengan sistem imun kita yang lemah (CD4 rendah), efek samping akan sangat terasa. Dan biasanya efek itu hanya akan bertahan beberapa waktu kok sampai sistem imun kembali sehat.

Gue juga pernah berpikir, “ah kan gue sudah minum ARV, jadi gue gak perlu cemas lagi”. Tapi setelah gue tahu informasi bahwa ARV hanyalah salah satu komponen untuk menjamin kesehatan gue. Gue jadi sadar bahwa gue juga perlu untuk memastikan kesehatan gue dengan pola hidup sehat.

Mitos #4: Gue bisa berhenti minum obat jika gue sudah merasa sehat, dan melanjutkannya ketika gue sakit

Gue awalnya mikir, minum ARV itu seperti minum parasetamol, gue minum obat cuma ketika gue sakit, dan setelah gue sembuh, gue boleh berhenti mengonsumsi ARV. But, i was wrong. Gue salah besar, kata dokter gue. Karena dampaknya adalah resistennya virus di dalam tubuh. Mengonsumsi ARV artinya gue harus mengonsumsinya secara patuh sepanjang sisa hidup gue. Gue sudah mengibaratkan minum ARV itu seperti minum vitamin sebagai kebutuhan gue setiap harinya.

Mitos #5: Mengonsumsi ARV sesuka kita saja, kan obat seumur hidup

Yaa, meskipun gue tahu bahwa sampai sekarang memang gue harus mengonsumsi ARV sepanjang sisa hidup gue. Tapi ini bukan berarti gue bisa sesukanya mengonsumsi ARV. Dokter gue menganjurkan mengonsumsi obat dengan waktu yang sama setiap harinya. Misalnya gue mengonsumsi FDC (Tenovovir, Evapirenz, dan Lamivudin dalam 1 tablet) di jam 10 malam, maka artinya gue harus minum FDC di jam 10 malam selama sisa hidup gue. Meskipun gue sesekali telat-agak telat minum obat, gak masalah asal gak jadi kebiasaan.