BALIKPAPAN, KOMPAS.com – Pendar mata di balik kacamata bergagang gading hitam itu tampak tenang. Rini (38), warga Balikpapan, Kalimantan Timur, tengah bertutur tentang kepergian sang suami karena AIDS.

Ibu muda beranak satu ini bercerita bahwa setelah ditinggal sang suami pada tahun 2006, dia lalu menjalani pemeriksaan di laboratorium.

Hasilnya, dia terjangkit HIV. Dunia pun seperti berhenti. Pasrah serta bayang-bayang masa depan sulit seketika melintas.

Namun, kehadiran seorang “pemburu” penderita HIV mengubah keputusannya untuk tetap percaya diri menjalani hidup seperti layaknya manusia normal.

“Pertemuan dengan Pak Giarto menyadarkan saya untuk tidak menutup diri,” kata Rini.

Sugiarto, nama lengkap Pak Giarto, adalah Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia (KPAI) untuk Balikpapan. Bagi kalangan penderita HIV/AIDS, dia adalah salah satu orang yang paling getol ingin menyelamatkan mereka.

Sejak itu, Rini kerap terlibat pertemuan dan sosialisasi gaya hidup sehat bagi kalangan penderita dan warga. Kemudian, Rini menjadi relawan setiap kali kegiatan penanggulangan AIDS berlangsung.

Dalam perjalanan bersama KPAI itu, Rini menemukan kenyataan bahwa banyak penderita HIV/AIDS yang tidak mengambil keputusan seperti Rini. Mereka beserta keluarganya menjauhkan diri dari masyarakat sekitar, bahkan ada yang menyembunyikan diri dari sesama penderita dan menghilang entah ke mana.

“Jangan pernah mengasingkan diri sejak tahu terinfeksi. Kalau dulu keputusan saya mengasingkan diri, bisa jadi saat ini saya sudah tidak ada,” kata Rini.

Sugiarto mengatakan mereka yang menyembunyikan diri bahkan mengasingkan diri tidaklah sedikit. Peran keluarga dan lingkungan sekitar penderita mempengaruhi keputusan mereka.
“Suatu kali kami dapat kabar hasil positif bagi seorang anak umur 18 tahun. Baru dapat info, langsung kami cari. Saya ini selalu bagian yang mengejar dan mencari-cari di mana keberadaan mereka. Masa awal masa berat penderita. Tapi sejak tahu ia terjangkit HIV, sejak itu dia menghilang, pindah rumah, orangtua pun sudah tidak kerja di alamat yang kami temukan,” kata Sugiarto.

Bagi Sugiarto, menyembunyikan diri bukan jalan keluar bagi penderita. Pendampingan rutin dan pertemuan sesama penderita justru membantu mengangkat moral dan semangat mereka. Terinfeksi HIV, lanjutnya, bukan akhir segalanya.

Mereka masih memiliki peluang untuk memiliki pasangan hidup, menjalani hidup selayaknya manusia normal, kebugaran yang sama seperti sedia kala, hingga memiliki keturunan dengan kondisi sehat atau negatif virus HIV. Pengobatan yang benar dan gaya hidup sehat harus sesegera mungkin.

Rini, lanjut Sugiarto, adalah contoh pola hidup yang sehat sekalipun mengidap HIV. Menurut Sugiarto, Rini menikah lagi pada tahun 2007, memiliki seorang anak dengan kondisi sehat dan negatif dari virus HIV. Suaminya pun kondisi sehat dan tidak terjangkit HIV.

Komunitas

Sugiarto mengatakan, komunitas sesama penderita merupakan salah satu pembangkit semangat hidup, mengingat masih berlangsungnya diskriminasi di antara masyarakat pada penderita Aids maupun yang terjangkit HIV.

Contoh lain pentingnya memiliki pertemanan dengan sesama penderita adalah saling berbagi informasi dan kebutuhan obat. Sugiarto mengatakan, pengidap HIV/AIDS mengonsumsi obat dua kali dalam satu hari untuk mempertahankan jumlah CD4 (sel darah putih) pada kondisi normal atau lebih baik.

Dalam perjalanannya, kerap seorang penderita kehabisan stok obat. Sekalipun obat diperoleh secara cuma-cuma dari pemerintah, bukan berarti stok selalu ada.

Komunitas sesama penderita menjadi jalan keluar. Mereka biasa saling berbagi informasi, baik lewat grup media sosial, kebutuhan obat karena kehabisan. Akhirnya mereka bisa saling meminjam obat.

“Istilahnya berutang obat dulu. Setelah obat datang, baru dikembalikan. Rini ini pernah sampai kehilangan stok satu minggu. HB turun hingga 60. Jalannya seperti ini (seperti mabuk berat). Kondisinya bisa kembali saat ini,” kata Sugiarto.

“Tapi seringnya juga tidak dikembalikan. Karena obat itu tergantung efek sampingnya. Berbeda-beda satu dengan yang lain efek sampingnya. Jadi sering tidak kembali,” kata Rini.

Pekerja urban

Pekerja uban atau pendatang salah satu yang faktor dominan meningkatnya angka orang dengan HIV atau AIDS. Pekerja urban yang terbanyak adalah laki-laki. Mereka datang dari luar Kalimantan dan melakukan rekreasi sosialnya.

“Kalau rekreasi sosial tidak ketemu, ya ke pinggir jalan. Karena dari sana (luar Kalimantan) dia tidak pernah diperiksa, sampai sini terus tahu-tahu sakit. Kita tidak pernah tahu siapa yang menularkan dan siapa yang ditularkan,” kata Sugiarto.

Kasus HIV/AIDS hingga November 2015 terdata 1.051 kasus. Rata-rata menjangkit usia produktif yakni 19 – 35 tahun. Di 2015 ini saja, penderita HIV/Aids terdata 150 kasus, yakni laki-laki 100 kasus, perempuan 44 kasus dan balita 6 kasus.

“Masih banyak yang belum ketahuan. Saya ini yang bagian mengejar dan menemukan mereka. Ada informasi, segera saya datangi, rumah hingga tempat kerja,” katanya.

Dia menambahkan, sulitnya menemukan penderita HIV/Aids karena tubuh mengalami sakit di retang 3-5 tahun sejak terinfeksi.

Sumber: kompas.com.

You may also like

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.