5 hal yang gak boleh gue lakukan ketika mencari pasangan

 

Gue dulu sempet minder untuk berkencan atau mencari pasangan setelah gue tediagnosis positive. Dan mungkin juga loe rasakan. Buat gue, masa tersebut adalah masa yang menakutkan—meskipun gue tahu gue tetap orang yang sama. Gue merasa padangan gue untuk mencari pasangan agak berbeda.

Tapi setelah gue sadari, ternyata yang gue lakukan adalah salah. Gue pernah melakukan hal-hal yang menghambat gue mencintai diri gue dan mendapatkan pasangan. Gue mau coba share hal yang jangan (lagi) gue lakukan ketika mencari pasangan. Mungkin saja bisa membantu loe bangkit dari keterpurukan dan ketakutan loe untuk mencari pasangan.

Jangan malu

Mengalami kecemasan pada masa transisi menjadi ODHA adalah hal yang wajar. Gue sempet juga malu buat berkenalan atau sekedar ketemuan di dating-app karena status ODHA gue. Tapi gue sadar, menjadi HIV itukan masalah kesehatan gue, bukan mengubah ke-gantengan gue, atau ke-baikan gue. So gue gak perlu malu dengan status gue—tapi jangan malu-maluin juga sih.

Jagan buru-buru

Bagi gue, gue gak mau tergesa-gesa dalam berbagai hal. Karena tergesa-gesa bisa menyebabkan kefatalan. Bahkan ketergesa-gesaan mencari pasangan. Mulanya mungkin gue berpikir bahwa pasangan adalah hal yang gue butuhkan. But hold on, mungkin saja itu bukan hal yang gue butuhkan. Kalau gue merasa kesepian dan merasa jawaban dari kesepian loe adalah pasangan, gue harus berpikir benar-benar sebelum memutuskan mencari pasangan. Demikian juga setelah gue memutuskan untuk mencari pasangan, jangan tergesa-gesa.

Jangan batasi diri loe

Status gue tidak mendefinisikan siapa gue, atau menyuruh gue berpasangan dengan orang seperti apa. Bagi gue, hubungan itu terjalin karena kesamaan ketertarikan, kesukaan, kualitas, bukan karena gue dan pasangan gue harus sama-sama ODHA. Mungkin buat loe yang masih minder. Buat apa minder? Because you are unlimited.

Jangan terlalu merasa beruntung mendapatkan pasangan yang menerima status loe

Stigma memang masih sangat kental di masyarakat. Bahkan stigma itu kadang masih muncul di diri gue sendiri. Kenapa gue minder, ya karena gue menganggap diri gue berbeda dengan orang lain. Soo, gue bangkit. Gue masih sama seperti orang lain koq.

Kalau mencari pasangan yang hanya bisa menerima status HIV gue, menurut gue itu gak lengkap. Karena pasangan yang baik adalah pasangan yang bisa menerima kita apa adanya. Bukan cuma menerima status gue, tapi juga kepribadian gue, kejelekan gue, atau menerima kebaikan gue juga.

Jangan ragu untuk menjadi layak

Minder ya wajar, tapi jangan sampai menjadi merasa tidak layak. Bagaimana orang lain bisa menyukai loe kalau loe tidak merasa layak? Awalnya gue pernah berpikir seperti itu koq, tapi gue menyadari bahwa gue juga berharga seperti gue apa adanya. Karena HIV tidak mengubah atau mengurangi kepribadian gue.

Referensi:

http://www.hivequal.org/hiv-equal-online/5-dating-don-ts-for-the-newly-hiv-positive?slide=1

 

You may also like

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.