Vonis HIV+ merubah seluruh hidup Gue. Di saat Gue sudah mulai menata hati sedikit demi sedikit karena kondisi Gue yang beda sama dulu, Gue juga harus terikat kontrak dengan obat ARV seumur hidup Gue. Kontrak ini yang bikin Gue makin kalut. Gue ngga bisa main-main sama kontrak ini, Gue harus minum obat setiap hari, ngga telat dan ngga boleh lupa. Gue akan merasakan beberapa efek samping yang mungkin akan kurang nyaman buat tubuh Gue, Gue juga harus bolak-balik klinik buat cek kesehatan, belum lagi masalah buat open status Gue. Kacau, I mean, I must dealing with all of those things in every second of my life? Really? Siapkah Gue?

Gue terus saja mikirin hal yang aneh-aneh, ngerasa takut, ngga bisa terima keadaan, dan akhirnya Gue ngga boleh gini! Gue harus bangkit! Gue harus tanggung jawab dengan apa yang sudah Gue mulai, walaupun Gue ngga pengen akhirnya gini, tapi jalannya emang udah gini.

Di saat Gue sedang mencoba bangkit, datanglah mereka. Mereka yang juga sama kayak Gue, yang pernah jatuh kayak Gue, yaa keluarga baru Gue di KDS. They said, it’s fine, everything’s gonna be alright, jangan berlarut dalam pikiran dan suasana hati yang negatif karena akan berdampak yang negatif pula. Mikir ini itu yang ngga jelas juga ngga akan mengembalikan kita ke masa lalu, kita tetap akan bergerak maju dan harusnya dengan semangat dan pikiran yang positif. Mungkin Loe pernah denger istilah awam tentang, “Loe jangan mikir gitu, ntar yang Loe pikirin itu kejadian lho, udah positive thinking aja’, ternyata ada benernya juga. Di saat dulu Gue jatuh dengan bad thinking Gue tentang hidup Gue selanjutnya, ya itulah yang terjadi, Gue malah makin sakit. Dan setelah tahu kalau jadi seorang ODHA itu bukan akhir dari segalanya, ARV juga bukan kontrak yang non-profit, Gue ngga mikir yang aneh-aneh lagi. Gue malah nikmatin kondisi Gue sekarang, Gue minum obat ARV rutin, CD4 Gue naik, VL Gue turun, IO ngga muncul. Gue luruus aja mikirnya, efek samping juga Gue anggap biasa, biar ngga makin terasa.

Terbukti kalau dengan pikiran yang positif maka menjalani kenyataan dan khususnya terapi ARV malah semakin nyaman, tapi kalau kita hanya meratapi kondisi kita dan selalu mikirin yang jelek-jelek, kita ngga akan maju, kita disitu aja, malah memperburuk keadaan kan. So, the power of mind itu emang bener. Jadi Loe juga harus coba untuk selalu positive thinking, pikir yang baik aja jangan yang jelek, pun terapi ARV akan LOe jalani dengan mudah. Semangat !

 

Referensi:

  1. Napoli, N. It’s Just A Pill, 2014. (online) (http://www.hivequal.org/hiv-equal-online/it-s-just-a-pill).
  2. Watt M.H., Suzanne M., Jo A.E., et al. “It’s all the time in my mind”: Facilitators of adherence to antiretroviral therapy in a Tanzanian setting. Soc Sci Med 2009; 68(10): 1793-1800.
  3. Gonzales J.S., Penedo F.J., Duran R.E. Social support, positive states of mind, and HIV treatment adherence in men and women living with HIV/AIDS. Health Psychol 200; 23(4): 413-418.

You may also like

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.