Gue sering banget dapet curhatan dari kawan-kawan ODHIV kalau mereka merasa kesehatannya buruk, keluhan sakitnya tidak kunjung sembuh, dan kehilangan daya ingat serta konsentrasi. Kalau gue perhatikan, banyak ODHIV yang memang mengalami gejala trias depresi. HIV dengan gangguan psikiatri mempunyai hubungan timbal balik. Seseorang yang terinfeksi HIV akan dapat menyebabkan gangguan psikiatri akibat virus HIV masuk dan menyerang sistem saraf pusat yang ada di dalam otak.

Selama ini kita fokus tentang bagaimana menaikkan CD4 tapi lupa dengan yang satu ini, sistem saraf pusat. Perjalanan AIDS yang berakhir dengan kematian, penyebarannya yang cepat, adanya stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV – menjadi hal-hal yang dapat menimbulkan stres dan gangguan psikiatri pada ODHIV tersebut. Gangguan psikiatri seperti depresi, kecemasan, panik, dan lain-lain merupakan gangguan psikiatri yang paling banyak ditemukan pada pasien dengan HIV dan AIDS. Sebagai catatan, depresi adalah keadaan emosional yang ditandai dengan perasaan murung, sedih, khawatir, kesepian, pesimis, inferior, tidak berguna, bersalah, menarik diri, gairah seksual menurun, kehilangan nafsu makan, atau kehilangan minat untuk melakukan kegiatan yang biasa dilakukan.

Depresi klinis di kalangan pengidap HIV dipengaruhi banyak hal, mulai dari jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, seberapa lama dia terdiagnosis, dan jenis obat ARV yang diterima juga mempengaruhi kondisi depresi (dalam hal ini Efavirenz paling sering berpengaruh). Menurut gue, depresi menjadi prediktor rendahnya kepatuhan terapi ARV, meningkatnya perilaku seksual berisiko, kegagalan pengobatan ARV, kecepatan sindrom HIV, dan angka kematian yang tinggi. HIV menginfeksi sel sistem kekebalan dan sistem saraf. Infeksi sel di dalam sistem saraf pusat (terutama astrosit) secara langsung menyebabkanperkembangan sindroma neuropsikiatrik. Hal ini sering dipersulit lebih jauh pada pasien dengan AIDS, akibat efek neuropsikiatrik dari infeksi sistem saraf pusat.

Serangan episode depresif mempunyai prognosis yang bervariasi, secara umum lebih baik jika di ‘follow- up’ dalam waktu lama. Resiko relapse berkurang jika pemberian anti depresan dilanjutkan sampai 6 bulan setelah serangan depresif. Dokter perlu mengetahui status HIV kita agar tepat cara mengobatinya karena permasalahan psikiatri dan psikososial pada ODHIV sebetulnya cukup rumit. Lagi-lagi dukungan dan pendampingan dari keluarga dan komunitas sebaya sangat dibutuhkan dalam kasus seperti ini. Mengalami depresi saja sudah sulit, kemudian mengurus HIV juga sangat menguras kesabaran. Jika keduanya bertemu maka kita harus lebih bijak dalam menghadapinya.

Oleh: Om Bob

 

You may also like

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.