Resistansi terhadap obat HIV (HIV resistan) disebabkan oleh perubahan (mutasi) pada struktur genetik HIV yang mempengaruhi kemampuan obat tertentu atau kombinasi obat untuk memblokir replikasi virus. Semua obat ARV terkini, termasuk kelas yang lebih baru, berisiko menjadi sebagian atau sepenuhnya tidak aktif karena munculnya virus yang resistan terhadap obat.

Secara umum, ada tiga kategori utama resistansi obat HIV:

  1. Resistansi yang berkembang ketika mutasi HIV muncul pada orang yang menerima obat ARV.
  2. Resistansi yang terdeteksi pada orang tanpa riwayat penggunaan obat ARV. Yaitu terjadi ketika seseorang tertular virus dari orang yang sudah resistansi obat.
  3. Resistansi yang diakibatkan karena pemberian obat ARV sebelumnya (misalnya pada pengguna PrEP).

Seharusnya kepatuhan tetap wajib ditekankan sejak awal pengobatan. Karena kebanyakan kasus resistan terjadi akibat kepatuhan yang buruk. Bagaimanapun, kita bertanggung jawab atas keberhasilan pengobatan pada diri kita maupun bagi orang lain. Kalau sudah patuh tapi masih mengalami resistan, itu permasalahan lain.

Pengobatan bisa dikatakan berhasil jika:

  1. Virus dalam darah kita turun sangat rendah hingga tidak terdeteksi (undetectable), ini yang disebut sebagai keberhasilan virologi.
  2. Sel kekebalan tubuh kita naik terus hingga pada angka normal, ini yang disebut dengan keberhasilan imunologi.
  3. Kondisi kesehatan fisik kita menjadi baik, atau pulih dari sakit, ini yang disebut keberhasilan secara klinis.

Semua keberhasilan tersebut dapat kita raih jika kepatuhan kita sangat baik, dan dibarengi dengan pola hidup sehat tentunya. Namun sebaliknya, kemungkinan gagal pengobatan juga sangat tinggi jika kepatuhan kita sangat buruk, dan resistansi obat sangat mungkin terjadi pada orang dengan tingkat kepatuhan yang amburadul. Yuk kita cegah resistansi obat ARV dengan mengutamakan kepatuhan.

 

You may also like

4 Response Comments

  • Ivan  24 September, 2019 at 10:32 am

    Min aku mau tanya dong efek obat ARV pertama apakah akan terasa sama di hari kedua atau makin parah atau makin membaik.

    Reply
    • guebisa 19  24 September, 2019 at 11:46 am

      Halo ka,

      Berkaitan dengan efek samping ARV, setiap orang berbeda-beda, ada yang efeknya ringan ada yang berat, ada yang sebentar satu hari dua hari, ada yang agak lama sampai satu bulanan, efek yang paling umum adalah mual dan kliyengan pada kepala. efek samping mual bisa diatasi dengan obat antimual, ini akan hilang dengan sendirinya beberapa hari, kliyengan pada kepala juga umumnya akan semakin berkurang seiring berjalanannya terapi.

      namun, jika mengalami efek samping yang berat sebaiknya segera laporkan ke dokter.

      Salam
      Admin

      Reply
  • Tari  8 October, 2019 at 9:52 pm

    Min mau tanya, boleh tidak selama minum arv konsumsi propolis?

    Reply
    • guebisa 19  9 October, 2019 at 4:14 pm

      Kami belum menemukan penelitian tentang interaksi ARV dengan propolis, lebih baik ditanyakan langsung ke dokternya, termasuk penggunaan herbal lainnya.

      Reply

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.